[LN] Yuujin-chara no Ore ga Motemakuru Wakenaidarou? Volume 3 Chapter 7 Bahasa Indonesia

Undangan

Chapter Tujuh: Undangan


Sekarang hari Senin, beberapa hari setelah pengakuan mengejutkan Makiri-sensei.

Kebetulan juga hari ini adalah hari diadakannya upacara akhir semester. Semua orang sangat bersemangat untuk memulai liburan musim panas mereka besok, tapi aku lebih banyak mengkhawatirkan hal-hal lain—terutama, tentang hari terakhirku di kelas bersama Makiri-sensei.

Kuharap tidak ada yang aneh saat kami bertemu lagi di sekolah, terutama setelah apa yang terjadi pada hari Jumat lalu. Namun, kupikir kami bisa menangani situasi ini seperti orang dewasa dan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa, kan? Tetap saja, aku tetap waspada saat aku dan siswa lainnya menuju gedung olahraga. Jika memungkinkan, aku ingin menghindari berpapasan dengannya sekarang.

“Wah, lihat Tomoki. Dia berjalan seperti sedang dirasuki setan.”

“Sepertinya dia mencoba memberi tahu kita bahwa dia akan menyiksa jiwa kita, bahkan saat kita sedang berlibur. Tuhan tolong aku.”

“Hei, berhentiah menatapnya. Kau akan membuat kita semua terbunuh.”

Sialan. Aku hanya mencoba berhati-hati menghindari Makiri-sensei, tapi aku malah berhasil tampil lebih menakutkan dari biasanya. Astaga…

“Ah! Tomoki-senpai!” seseorang berteriak dari belakangku.

“Hei,” jawabku sambil berbalik. Itu Kai.

“Kamu ada rencana untuk musim panas ini, Senpai?”

“Huh? Uhh, yah, kurasa aku punya beberapa rencana. Kamu tahu soal perjalanan musim panas OSIS yang mereka lakukan setiap tahun, kan?”

“Tidak. Aku tidak pernah mendengar hal tersebut.”

“Yah, pokoknya begitulah. Mereka mengundangku untuk pergi bersama mereka meskipun aku bukan anggota resmi, jadi ya, begitulah.”

Kai menunjukkan senyum cerah dan berseru, “Yah, kamu selalu membantu mereka! Dapat dimengerti kalau mereka mengajakmu!”

“Nah, kurasa aku tidak membantu sebanyak itu, tapi begitulah.”

“Ayolah, bung. Kamu bahkan sampai mengorbankan waktu berkualitas dengan Touka untuk membantu mere—oh, uh…” dia menggelepar, senyumnya dengan cepat digantikan oleh rasa malu. Kurasa dia keceplosan.

“Uh, yah, Touka sebenarnya juga ikut membantu,” aku menjelaskan.

“Baguslah. Tapi, hei, kamu juga bisa menghabiskan waktu bersamaku, lho,” tambahnya.

“T-Tentu saja, bung! Aku tidak akan pernah melupakanmu!”

Aku tidak berpikir dia sengaja mencoba menekanku atau semacamnya, tapi aku jelas jadi berkeringat sekarang. Aku hanya tidak pernah menyangka akan ada adik kelas yang memohon agar aku meluangkan waktu untuknya. Ini adalah wilayah asing bagiku sehingga aku masih belum terbiasa.

“Kita bisa mengunjungi pemandian air panas kapan-kapan—hanya kamu dan aku. Aku tahu tempat luar biasa yang terkadang aku kunjungi bersama orang-orang di ekskulku,” sarannya dengan penuh semangat.

“Wah, pemandian air panas? Kedengarannya menyenangkan.”

Ini pilihan yang aneh menurutku, tapi aku memang suka pemandian terbuka yang besar, terlepas dari tujuannya. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku menentang ide itu sama sekali.

“Benarkah?! Bagus!” serunya gembira. “Oke! Aku akan menyiapkan semuanya, jadi nantikanlah undangannya segera!”

Sialan. Setiap kali dia bersemangat menghabiskan waktu bersamaku seperti ini, aku merasa hangat dan nyaman di dalam diriku. Senang rasanya dihargai.

“Tentu saja. Oh, sial, kita sudah sampai. Oke, sampai jumpa nanti,” kataku saat kami mendekati gedung olahraga.

“Baiklah. Sampai jumpa, bung,” kata Kai.

Aku berjalan melewatinya dan memasuki gedung olahraga. Saat aku melakukan itu, aku yakin aku bisa mendengar Kai berteriak, “Oh yeah!” di kejauhan. Tapi itu pasti hanya perasaanku saja, kan? Tidak ada yang akan sesemangat itu untuk nongkrong bersamaku selama musim panas.


Setelah upacara berakhir, sekolah pun selesai. Yap, kami pulang lebih awal dari biasanya. Aku kembali ke kelas dan mulai mempersiapkan barang-barangku untuk pulang sampai tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam kelas dan menyapaku.

Senpaaai! Ayo pulang bareng!”

Seperti yang bisa kalian tebak, itu adalah Touka. Dia muncul kembali untuk menungguku di koridor, tapi sudah terlambat—semua orang di kelas sudah berbalik untuk menatapku saat dia meneriakkan namaku. Aku membalas tatapan mereka, yang dengan cepat membuat mereka berpura-pura tidak tahu dan kembali ke urusan mereka masing-masing.

Ya ampun, tahun kedua sudah berakhir dan selesai, namun kami masih memainkan reaksi yang sama. Itu jadi melelahkan setelah selama ini. Ini tidak lucu lagi! Paling tidak, mereka bisa sedikit membumbuinya dengan mengubah reaksi mereka. Masa bodohlah. Semoga tahun depan, segalanya akan berbeda.

Aku berdiri dan menuju ke arah Touka, tapi Ike angkat bicara sebelum aku bisa pergi.

“Permisi—sebelum kalian berdua pergi, maukah kalian ikut ke ruang OSIS bersamaku? Kami sudah menyelesaikan dokumen yang diperlukan untuk perjalanan, dan aku ingin kalian memegangnya sebelum kalian pergi.”

“Tentu,” jawabku.

“Oke! Jika Senpai pergi, maka aku juga akan pergi!” Touka menambahkan, jelas bersemangat.

Kupikir Ike akan bosan dengan komentar manis Touka sekarang, tapi menilai dari senyumnya, dia terlihat cukup senang dengan bagaimana dia menangani situasi tersebut.

“Terima kasih kawan. Kalau begitu ayo kita pergi,” katanya.

Begitu kami tiba, kami melihat ada orang lain di sana yang sepertinya sedang menunggu kami.

“Kerja bagus hari ini, Ketua… Tampaknya kamu juga telah memanggil Ike dan Tomoki,” Otome Tatsumiya, wakil ketua OSIS, menyapa kami dengan nada berbunga-bunga.

Aku melihat sekeliling, tapi Tanaka-senpai dan Suzuki tidak terlihat—dia satu-satunya orang yang ada di sini.

“Kamu datang cukup awal, Tatsumiya,” jawab Ike.

“Kamu tidak salah. Lagipula, sekolah memang selesai lebih awal dari biasanya hari ini,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku juga akan menyapa—tidak sopan jika tetap diam. “Hai. Aku baru ingat kalau kamu juga anggota OSIS, ya?”

“Benar. Kita bertemu lagi,” jawabnya sambil tersenyum, meski kali ini terasa agak misterius.

Touka menggembungkan pipinya sedikit saat dia melihat percakapan singkat kami. “Umm, Senpai, siapa gadis ini? Dan bagaimana dia juga bisa mengenalku?”

Apakah hanya perasaanku, atau dia memang terdengar marah sekarang? Bukan berarti aku tahu alasannya sih.

“Aku harus minta maaf, Ike—Aku yakin kita belum pernah berkenalan dengan benar. Namaku Otome Tatsumiya. Aku siswi kelas dua, dan aku memenuhi peranku sebagai wakil ketua OSIS. Ketua sudah berbicara tentangmu sesekali—Aku harap kita bisa akrab ke depannya.”

“Ohh, jadi kamu waketos. Okelah! Senang bertemu denganmu!” serunya sambil menyeringai. Dia sudah cukup menguasai senyum palsu sekarang, tapi yang kali ini lebih hebat.

Tatsumiya mendekati Touka dan bertepuk tangan. “Memang. Aku juga sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku tahu ini mungkin terdengar sangat terburu-buru, tapi apakah kamu keberatan jika aku dapat memanggilmu dengan ‘Touka’?” tanyanya dengan semangat yang tidak biasa dalam nada suaranya.

“Uhh, tentu? Aku tidak terlalu keberatan…” gumam Touka, jelas bingung dan tidak nyaman dengan perubahan total sikap Tatsumiya.

“Terima kasih, Touka. Dan mulai sekarang kamu bisa memanggilku ‘Otome’.”

Touka menatapku, seolah memohon padaku untuk membantunya keluar dari situasi canggung ini. Oh, benar—bukankah Tatsumiya memiliki perasaan terhadap Ike atau semacamnya? Menurutku dekat dengan Touka itu demi kebaikannya sendiri, mengingat dia adalah adik dari orang yang dia sukai. Aku mengangguk ke Touka, mencoba memberi isyarat bahwa dia harus mengikuti alur saja jika dia ingin itu berakhir.

“Um… err, jadi, ‘Otome’?”

Saat Touka mengucapkan tiga suku kata itu, Tatsumiya terlihat seperti memenangkan lotere. “Ya Tuhan, ya!” dia menjerit terlalu antusias. “Ahem! Aku harap kita bisa akrab, Touka!”

“Uhh… tentu,” gumam Touka sambil cepat-cepat mundur beberapa langkah.

“Ah!” Tatsumiya tersentak saat Touka mundur, dan ekspresinya langsung menjadi gelap.

Sialan. Jika dia tidak memberitahuku bahwa dia naksir Ike, kurasa aku akan berpikir kalau dia malah naksir Touka.

Setelah interaksi aneh itu selesai, Ike pun berbicara.

“Ngomong-ngomong, ini dokumen perjalanan tahun ini. Bacalah lagi, dan jika ada yang tidak kalian mengerti, pastikan untuk bertanya langsung atau mengirimiku pesan, oke?” katanya sambil memberi kami setumpuk kertas.

Aku membacanya dengan cepat—tidak ada yang aneh. “Oke. Jika ada sesuatu, aku akan memberi tahumu.”

“Oke, Senpai—sekarang kita sudah selesai di sini, ayo pulang!” seru Touka.

“Benar. Yah, sepertinya kita sudah siap. Sampai jumpa nanti,” kataku pada dua orang lainnya.

“Da-dah!” Touka mengikuti.

“Hati-hati di jalan,” kata Ike.

“Ya ampun, kamu pergi secepat itu? Begitu, ya… Baiklah. Aku akan mengucapkan selamat tinggal untuk saat ini,” jawab Tatsumiya, menatap Touka dengan seksama. Cukup jelas dia tidak ingin Touka pergi dulu, tapi Touka dan aku mengabaikan permintaan tersiratnya.

Kami membuka pintu untuk pergi, tapi hampir bertabrakan dengan seseorang; itu adalah Makiri-sensei. Saat kami melihat satu sama lain, kami mengalihkan pandangan. Sudah kuduga ini akan menjadi canggung.

“Oh! Tomoki-kun dan… Ike…” dia menyapa kami, dengan ragu-ragu.

Untungnya, Touka tidak menyadari ada yang aneh di antara kami. “Ah, Makiri-sensei. Kerja bagus hari ini! Oh, ya—Anda akan ikut serta dalam perjalanan OSIS, kan?”

“Benar. Guru yang biasanya bertugas mengawasi OSIS kebetulan cukup sibuk, jadi aku yang akan menggantikannya,” Makiri-sensei menjelaskan.

“Bagus! Saya menantikan untuk melihat Anda di sana!”

“Aku juga.”

Dengan percakapan singkat itu, Makiri-sensei menoleh padaku dengan ekspresi seperti dia baru saja mengingat sesuatu.

“Oh, aku baru ingat—Ike-kun menyebutkan kalau kamu masih belum menyerahkan surat izin orang tuamu. Kamu membutuhkannya untuk ikut dalam perjalanan. Apakah kamu sudah membawanya hari ini?”

Aku tidak mengira dia mengalihkan pembicaraan ke arah ini, jadi aku tak bisa berkata-kata. Untungnya, ini pertanyaan yang sangat mendasar. Aku mengangguk, membuka resleting dari ranselku, dan menyerahkannya.

“Maaf karena memakan waktu lama,” aku minta maaf.

“Tidak perlu meminta maaf. Lagipula kamu tidak punya batas waktu,” dia meyakinkanku saat dia mengambil selembar kertas dari tanganku. Dia memaksakan senyum sekarang, jelas mencoba memalsukan kenormalannya.

Aku melihat ke arah Touka, memberi isyarat bahwa kita bisa pergi.

“Oke, teman-teman! Sampai jumpa!” kicaunya sambil memimpin jalan keluar.

“Hati-hati dalam perjalanan pulang,” jawab Makiri-sensei dengan nada dingin dan tenang seperti biasa sambil tersenyum tipis. Rasanya seperti tidak ada yang berubah.


Touka dan aku berjalan menuju stasiun kereta seperti biasa.

Saat kami berjalan, aku memikirkan kembali interaksi kami barusan dengan Makiri-sensei. Sebagian besar, sepertinya tidak ada yang aneh—maksudku, dia bertingkah seperti biasanya. Tentu, kami berdua malu pada awalnya, tapi semuanya dengan cepat kembali normal. Aku harus mengikuti teladannya dan mencoba untuk bersikap seperti diriku yang biasanya juga.

“Ngomong-ngomong, Senpai—kamu benar-benar berbicara dengan ayahmu soal perjalanan itu, kan?” tanya Touka.

“Uhh, ya. Begitulah. Mhm.”

Aku benar-benar ingin menghindari pembicaraan tentang subjek ini, jadi alangkah baiknya jika dia menerima maksudku dan mengakhirinya.

“Hmm… Senpai, jangan bilang kalau kamu memalsukan tanda tangan ayahmu,” katanya tiba-tiba.

Sial. Dia sadar.

“Mungkin begitu.”

“Jadi kamu tidak bisa membicarakan masalah itu dengannya?” tanya dia.

“Kami hampir tidak pernah mengobrol. Tidak pernah. Aku tahu kalau kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyemangatiku, tapi aku takut. Maaf. Aku sangat menyedihkan, ya.”

Dia menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Aku tidak pernah berpikir kalau kamu menyedihkan, Senpai. Kamu tahu sudah berapa lama aku juga tidak bisa akrab dengan kakakku yang menyebalkan? Jadi, begitulah… Dan tidak, bukan berarti kami akrab sekarang, oke?!”

“Uhh, tentu,” gumamku.

Aku tidak bisa menahan tawa kecil ketika aku melihatnya berusaha sekuat tenaga untuk menyangkal kebenaran. Jelas sekali bahwa hubungan mereka mulai membaik, meskipun hanya sedikit.

“Aku juga tidak ingin membuatmu terburu-buru. Lakukan hal-hal dengan kecepatanmu sendiri, tapi…” dia terdiam, lalu mengacungkan jarinya ke arahku. “Jika Makiri-sensei mengetahui tentang ini, dan kau akhirnya tidak bisa pergi, maka aku akan marah. Mengerti?”

“Uhh… Jika itu terjadi, maka aku minta maaf sebelumnya,” kataku sambil membungkuk meminta maaf.

Dia menyeringai dan mengibaskan jarinya ke kanan dan ke kiri. “Hei, itu bukan jawaban yang kucari. Seorang pria sejati akan mengatakan bahwa dia akan menebus kesalahannya dengan mengajakku ke hotel mewah selama beberapa malam!”

“Maksudku, ini musim panas. Kita selalu bisa merencanakan tamasya atau semacamnya… tentu saja selama kamu tidak keberatan.”

Dia menatapku dengan ekspresi lelah dan jengkel, tapi kemudian menyeringai. “Baiklah. Sayang sekali kita tidak bisa menghabiskan malam bersama seperti yang aku usulkan, tapi aku senang aku diajak kencan, Senpai!”

Dengan itu, dia berjinjit dan mengusap kepalaku.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku.

“Hehehe, anggap ini hadiahmu karena mengajakku sendiri! Bukankah kamu senang pacar imutmu melakukan ini untukmu?”

Sebenarnya aku bukan penyuka hal-hal semacam ini, tapi dia mencoba yang terbaik untuk menghadiahiku dengan caranya sendiri. Kurasa aku akan membiarkan dia melakukan apa pun yang dia mau.

Melihat senyum Touka membuatku berpikir bahwa musim panas ini akan menjad lebih baik dari biasanya. Jujur saja, aku sangat bersemangat menantikannya.



Yuujin-chara no Ore ga Motemakuru Wakenaidarou? Bahasa Indonesia [LN]

Yuujin-chara no Ore ga Motemakuru Wakenaidarou? Bahasa Indonesia [LN]

There’s no way a side character like me could be popular, right?
Score 9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: , Released: 2018 Native Language: Jepang
“Karena aku sangat mencintaimu, Senpai!” Namaku Tomoki Yuuji, siswa SMA kelas dua. Aku bisa mengatakan bahwa aku adalah seorang siswa yang cukup normal, kecuali fakta bahwa semua orang menghindariku seperti wabah karena aku terlihat seperti haus darah. Ike Haruma adalah satu-satunya yang tidak menjauhiku. Dia tipikal ‘pria sempurna’ dalam segala hal; protagonis tanpa cacat yang biasa kau lihat di setiap cerita. Kehidupan di sekolah terus berjalan seperti biasa… sampai suatu hari, adik perempuan Haruma yang super populer itu menyatakan cinta padaku tiba-tiba?! Meskipun dia kemudian mengklarifikasi bahwa perasaannya terhadapku sama sekali tidak romantis dan dia memiliki motif tersembunyi, au akhirnya menerima peran baruku sebagai ‘pacar palsu’ sebagai bantuan untuk Haruma. Percaya atau tidak, saat aku mulai berkencan dengannya, teman masa kecil Haruma yang seperti idol dan guruku yang super cantik ikut terlibat denganku juga! Tunggu sebentar. Ini tidak mungkin skenario rom-com impian yang diatur sendiri untukku, kan?! Maksudku, tidak mungkin karakter sampingan sepertiku bisa menjadi populer, kan?  

Comment

Options

not work with dark mode
Reset