[LN] Yuujin-chara no Ore ga Motemakuru Wakenaidarou? Volume 3 Chapter 18 Bahasa Indonesia

Bertemu Ayah Sensei

Chapter Delapan Belas: Bertemu Ayah Sensei


Sudah beberapa hari berlalu sejak aku setuju untuk menjadi pacar palsu Makiri-sensei agar ayahnya melepaskannya dari perjodohan. Hari ini adalah hari yang menakutkan—hari di mana kami menuju ke rumah ayahnya. Tentu saja aku sangat gugup sekarang.

Dia menjemputku dengan mobilnya, dan kami pun menuju lokasi. Saat dia mengemudi, dia melirikku beberapa kali.

“Mungkin sudah terlambat untuk mengomentarinya, tapi aku tidak yakin apakah pakaianmu adalah pilihan terbaik untuk hari ini,” gerutunya.

“Apa maksud Anda? Anda yang memilih ini.”

Aku mengenakan setelan yang terlihat tajam dan kemeja putih bersih. Aku terlihat persis seperti tipikal pengusaha, tanpa dasi.

“Aku tahu. Kupikir pakaian itu akan membuat kesan pertama terbaik dengan ayahku. Menurutku pakaian kasual tidak akan lebih baik, tapi tetap saja…”

Kami berhenti di lampu merah. Saat kami menunggu, Makiri-sensei menatapku dengan cermat, memeriksaku dari atas sampai bawah.

“Kamu terlihat terlalu seperti orang dewasa sekarang—itu mungkin justru akan memberikan efek sebaliknya di sini. Kita seharusnya hanya mampir untuk memberikan ‘salam’, tapi ayahku mungkin akan mendapatkan kesan yang salah. Dia mungkin mengira kamu sedikit berlebihan hanya untuk sekedar ‘salam.’ Apakah kamu mengerti maksudku?”

“Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Anda maksud.” Proses berpikirnya begitu banyak liku-liku sehingga pada dasarnya menjadi labirin, dan aku benar-benar tersesat di dalamnya.

Lampu pun berubah menjadi hijau. Alih-alih membalas, dia hanya memelototiku dan menginjak gas.

“Bukan apa-apa,” akhirnya dia bergumam dengan nada jengkel di suaranya.

Apa salahku? Aku hanya ingin tahu apa yang dia maksud; sekarang aku malah diperlakukan seperti penjahat. Yah, masa bodohlah. Aku tidak ingin mengganggu pengemudi, jadi aku akan diam sajalah.


Setelah perjalanan dua jam yang panjang, kami akhirnya tiba di tujuan kami—sebuah mansion yang sangat besar. Jika aku merasakan tekanan sebelumnya, sekarang tekanan itu menjadi seratus kali lipat. Dia seharusnya memberi tahuku kalau keluarganya kaya raya!

“Um, Makiri-sensei, sebelumnya Anda bilang apa pekerjaan orang tua Anda?” tanyaku.

“Dia adalah petinggi di perusahaan yang agak besar,” jawabnya dengan nada datar dan netral.

Uh… bisakah kamu menjelaskannya dengan lebih spesifik? Sejauh yang aku tahu, ayahnya mungkin seorang pengacara, akuntan, atau semacam pengusaha besar. Apa pun itu, astaganaga. Ayahnya jelas-jelas menghasilkan banyak uang, karena tempat ini sangat besar. Aku tidak menyangka Makiri-sensei adalah salah satu nona kaya kelas atas yang sering kulihat di dalam manga.

“Bisakah kamu berhenti melongo ke arahku?” pintanya.

“Oh benar. Maaf.”

Dia menghela nafas berlebihan sebagai tanggapan. Kami keluar dari mobil, berjalan ke gerbang depan, dan membunyikan bel.

Pintu otomatis terbuka, dan seorang wanita agak montok berusia 40-an menyapa kami. “Ya ampun, Chiaki-chan! Selamat datang di rumah!”

Aku tahu kalau ibunya sudah meninggal ketika dia masih kecil, jadi aku bertanya-tanya siapa wanita ini. Begitu dia memperhatikan wajahku dengan baik, nada riangnya dengan cepat berubah. “Y-Ya ampun… Dan siapakah… pria muda yang mencolok ini?”

Makiri-sensei tidak merespon, dia hanya tersenyum samar. Sedangkan aku, aku tidak benar-benar tahu harus berkata apa di sini.

“O-Oh, begitu ya…” gumam wanita itu dengan suara yang sangat rendah, matanya terbelalak. “Ahem. Ngomong-ngomong, ayah Anda sedang menunggu di ruang bergaya Jepang. Saya akan pergi menyiapkan teh.”

Setelah mengatakan itu, dia pada dasarnya melarikan diri dari lokasi. Begitu aku yakin dia sudah pergi, aku bertanya pada Makiri-sensei, “Siapa dia?”

“Dia asisten rumah tangga. Ketika aku masih kecil, aku biasa membantu pekerjaan rumah tangga dan semacamnya. Namun, sekarang setelah aku pindah, beliau-lah yang mengurus tempat ini dan ayahku menggantikanku,” jawabnya.

Oh, duh—Aku seharusnya bisa menebak ada seseorang yang bekerja untuk mereka. Bodohnya aku.

“Bagaimanapun, kita harus bertemu dengan ayahku,” lanjutnya dengan suara tegang.

Aku mengangguk dan membuatnya memimpin jalan sambil mengikutinya ke dalam rumah. Kami berjalan melewati lorong yang berkelok-kelok dan ruangan yang tak terhitung jumlahnya sebelum berhenti di depan salah satu ruangan.

“Aku sudah sampai, Ayah,” umum Makiri-sensei sambil mengetuk pintu.

“Oh, Chiaki. Silakan masuk,” aku mendengar sebuah suara memanggil kami dari dalam.

“Ya, Ayah,” jawabnya sambil membuka pintu.

Begitu aku masuk, aku melihat ayahnya duduk bersila di atas bantal kecil di tengah ruangan, menunggu kami. Dia pria paruh baya berambut putih, kemungkinan besar berusia tidak lebih dari 50 tahun dilihat dari penampilannya. Tetap saja, aku dapat dengan jelas melihat kemiripan mereka, dan dia cukup tampan untuk usianya—tidak diragukan lagi dia adalah seseorang yang populer di masanya.

Dia melihat ke arah Makiri-sensei, lalu ke arahku. Ekspresinya tidak terlalu hangat dan ramah. Dia memelototiku dan bertanya pada Makiri-sensei, “Dan pria ini?”

Makiri-sensei terbata-bata sejenak, sebelum berkata, “Dia adalah pria yang sedang pacaran denganku saat ini. Namanya Yuuji.”

Alih-alih mundur, pernyataan ini tampaknya membuatnya semakin marah. Tatapan mencemoohnya meningkat, dan dia dengan cepat mulai menusukku dengan pertanyaannya. “Ayah tahu kamu menyebutkan ini terakhir kali kita berbicara melalui telepon, tapi Ayah tidak menyangka kamu benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Jadi apakah itu benar, Tuan Yuuji? Apakah kamu yang memacari putriku?”

“Yea—maksud saya… Ya, Pak. Saya dan Mak—Chiaki sudah pacaran selama beberapa waktu sekarang.”

Oh sial, aku benar-benar mengacau tadi. Aku masih belum terbiasa memanggilnya dengan nama depannya, dan kesalahan kecilku membuat ayahnya mencubit pangkal hidungnya dengan meringis.

Dia melemparkan tatapan tajam ke arah kami dan memerintahkan, “Duduklah, kalian berdua.”

Kami segera melakukan apa yang diperintahkan.

Sebelum dia mengatakan hal lain, Makiri-sensei memutuskan untuk angkat bicara. “Aku akan memperkenalkannya sekali lagi. Ini Yuuji—dia adalah pria yang kupacari.”

“Senang bertemu dengan Anda, Pak. Nama saya Yuuji Tomoki, dan, seperti yang dikatakan Chiaki, kami sudah berpacaran selama beberapa waktu sekarang,” kataku dengan tegas.

“Dia terlihat sangat muda. Berapa umurnya?”

“Dia berumur 20 tahun,” jawab Makiri-sensei untukku.

“Jadi dia masih kuliah,” pungkas ayahnya.

“Benar.”

Kami memastikan untuk membuat cerita yang dapat dipercaya sebelumnya. Aku akan berperan sebagai adik tingkatnya di perguruan tinggi, begitulah caranya kami bisa bertemu.

“Sudah berapa lama kalian berdua pacaran?” tanya ayahnya.

“Yah, sejujurnya, itu cukup baru,” akuku. “Saya sudah lama mencari pekerjaan, dan karena saya bercita-cita menjadi guru sekolah suatu hari nanti—begitulah saya dan Chiaki akhirnya menghabiskan begitu banyak waktu bersama. Satu hal mengarah ke yang lain, dan, tanpa saya sadari, saya telah jatuh cinta padanya. Saya mengungkapkan perasaan padanya, dan begitulah hubungan kami dimulai.”

“Dia pria yang sangat tulus dan ramah, belum lagi dia tidak keberatan aku lebih tua darinya. Jadi aku memutuskan bahwa aku akan memberinya kesempatan untuk pacaran denganku,” lanjutnya.

Aku seharusnya sedikit lebih mendetail dengan ceritaku—terutama soal pengakuan perasaan—karena dia harus menindaklanjuti apa yang aku katakan, tapi untungnya dia hanya menambahkan. Untung dia berhasil melakukan itu sebelum aku berakhir membuat kesalahan.

“Dan sebelum Ayah bertanya, ya—kami serius tentang ini,” katanya dengan berani. Aku mengikuti dengan anggukan tegas.

“Kamu mencoba meyakinkanku bahwa kamu ‘serius’ tentang suatu hubungan dengan seorang mahasiswa?!” bisiknya dengan marah.

Sialan. Ini tidak berjalan dengan baik.

“Namun, aku akui satu hal—itu… Tomoki-mu tampaknya bukan anak muda biasa. Anak-anak zaman sekarang tidak punya nyali sama sekali. Aku tidak merasakan sedikit pun keraguan dalam jawabannya, dan dia tidak gemetar ketakutan hanya karena aku ayahmu. Baiklah, Tomoki, ceritakan lebih banyak tentang dirimu.”

Yah, setidaknya dia berusaha berkompromi dalam situasi ini, bahkan jika aku “hanya seorang mahasiswa.” Aku dan Makiri-sensei menghela napas lega.

Sebelum aku dapat mengatakan apa pun sebagai jawaban, pintu ruangan terbuka, dan asisten rumah tangga yang sebelumnya, masuk dengan membawa beberapa cangkir teh.

“Terima kasih,” kata ayah Makiri-sensei.

Asisten rumah tangga keluar dari ruangan secepat dia datang.

Dan dengan secangkir teh di tangan, ayah Makiri-sensei mulai memburuku dengan pertanyaan, satu per satu.

Syukurlah, kami telah mempersiapkan ini sebelumnya. Makiri-sensei telah membuat daftar pertanyaan yang mungkin akan ayahnya tanyakan, dan aku berlatih bagaimana menjawabnya dengan tepat. Ternyata dia tepat dengan prediksinya. Ayahnya mendengarkan jawabanku dengan penuh minat, dan tumbuh semakin menyukaiku seiring berjalannya waktu. Sayangnya, perasaan bersalahku juga terus bertambah karena membohonginya.

Setelah beberapa saat, dia terlihat lega. Aku pasti memberinya kesan bahwa aku adalah orang yang sangat bisa diandalkan, meskipun semua yang keluar dari mulutku sejak aku tiba di sini benar-benar omong kosong.

“Hm…” gumamnya, sepertinya menandakan akhir dari interogasi yang panjang. “Aku belum sepenuhnya yakin untuk menyerahkan putriku padamu, tapi aku tidak keberatan melihat bagaimana segalanya berkembang di antara kalian berdua untuk saat ini.”

“Tunggu, apakah itu artinya…?” tanya Makiri-sensei.

“Ya. Untuk saat ini, kita akan menunda pembicaraan kecil kita soal perjodohan. Ayah akan memberi tahu calon pelamarmu. Kamu menemukan seorang pria muda yang baik. Dia punya nyali dan hati, dan itulah yang paling penting.”

Sepertinya kami berhasil membodohinya. Aku dan Makiri-sensei menghela nafas lega hampir bersamaan. Kami mencoba diam-diam melakukannya, jadi ayahnya tidak menyadarinya.

“Ya, benar. Aku bangga dia adalah muridku,” jawab Makiri-sensei dengan nada lembut.

“Tunggu, apa?” sembur ayahnya. Dia tidak gagal menyadari keceplosannya Makiri-sensei dan tampaknya agak terkejut karenanya. Sementara itu, aku sibuk duduk di sini berusaha untuk tidak mengompol di celana. “Apa yang barusan kamu katakan, Chiaki?”

Apakah Makiri-sensei tidak sadar? Ya Tuhan, Makiri-sensei! Astaganaga! Dari segala kesalahan yang ada dalam pertemuan ini, sejauh ini, inilah yang terburuk. Dia benar-benar mengacau.

“Hm?” tanyanya, bingung dengan pertanyaan ayahnya. “Aku bilang aku bangga dia adalah—Oh! Maksudku adalah bahwa aku bangga dia adalah pacarku.”

“Kamu bilang ‘murid’ sebelumnya.”

“Tidak, aku tidak bilang begiu. Apakah Ayah yakin tidak hanya salah dengar? Lagi pula, Ayah tidak benar-benar muda lagi.”

Makiri-sensei mencoba meredakan situasi, tapi kerusakan sudah terjadi.

“Tomoki, aku yakin kamu membawa kartu mahasiswamu setiap saat, benar? Atau, paling tidak, dokumen resmi yang mencantumkan tanggal lahirmu. Bisakah aku melihatnya sehingga aku tahu bahwa ini bukan sekedar dugaanku saja?”

“T-Tunggu sebentar! Tidakkah Ayah pikir Ayah agak tidak sopan meminta itu padanya?!” protes Makiri-sensei.

“Kamu diamlah!” teriaknya. Makiri-sensei tampak terkejut dengan teriakkan tiba-tiba ayahnya, sembari sedikit gemetar, mematuhi ayahnya. “Ayo, Tomoki—tunjukkan tanda pengenalmu. Cepat sekarang!”

Aku menggelengkan kepala. Kami tidak mempersiapkan skenario ini, jadi aku jelas tidak memiliki tanda pengenal palsu apa pun. Kebohongan sudah terbongkar.

“Begitu, jadi ini hanya sandiwara. Cukup dengan ini,” ucapnya, memelototi Makiri-sensei. “Sepertinya gurumu hanyalah orang gagal. Dia bahkan tidak akan bertahan satu hari pun di tempat kerjaku.”

Kata-kata pedas ayahnya memancarkan tekanan yang kuat, belum lagi tajamnya tatapannya pada kami. Aku bisa merasakan rasa permusuhannya terpancar jelas.

Makiri-sensei terlihat sangat terkejut dengan kata-kata ayahnya, tapi setelah beberapa saat ragu, dia berhasil memantapkan diri. “Apa?! Ayah tidak berhak untuk menilaiku sebagai orang gagal! Mungkin jika Ayah tidak begitu bertekad untuk menikahkanku dengan orang asing, maka aku tidak akan melakukan ini!”

“Hah! Yang benar saja!” teriaknya balik. Makiri-sensei terdiam dan menyerah pada tekanan ayahnya. “Kamu sungguh mengecewakan. Aku tidak mengerti alasannya, tapi kamu terobsesi dengan gagasan untuk tetap melajang dan menjadi guru yang menyedihkan selama sisa hidupmu.”

“Ayah! Aku—”

“Ayah tidak ingin alasan murahanmu. Beraninya kamu menyeret salah satu murid SMA-mu ke sini dan membohongiku? Apakah kamu waras, Chiaki?” Dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan, “Mungkin aku terlalu memanjakanmu sejak ibumu meninggal. Kamu harus memaafkanku karena tidak menjadi ayah yang baik untukmu. Tapi jangan khawatir—sekarang aku akan membuka matamu terhadap kebenaran!”

Dia mengangkat tangannya ke arah Makiri-sensei, dan dia tersentak, menutup matanya, dan mempersiapkan dirinya. Namun, sebelum dia bisa melakukan apa pun pada Makiri-sensei, aku meraih lengan ayahnya. Bukan tempatku untuk ikut campur saat ayahnya mengomeli Makiri-sensei, tapi tidak akan kubiarkan jika ayahnya berusaha main fisik.

“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?” gerutunya.

Makiri-sensei membuka mata dan menatapku, ekspresinya sangat terkejut.

Aku menoleh ke ayahnya dan bersiap untuk memberinya pelajaran… secara lisan tentu saja. “Begini, Pak—saya akui bahwa kami mencoba menipu Anda, dan saya tahu saya tidak benar-benar dalam posisi untuk mengajari Anda, tapi bisakah Anda setidaknya mencoba memahami maksud perkataan putri Anda?”

Ayahnya memelototiku dengan tatapan membunuh di matanya. “Lepaskan aku sekarang juga,” perintahnya dengan nada paling arogan yang pernah kudengar seumur hidupku.

Aku melakukan apa yang dia pinta dan menyelipkan diriku di antara mereka berdua sehingga dia tidak dapat mencoba aksi itu lagi.

“Pertama-tama, saya dengan sepenuh hati meminta maaf atas… semua ini. Memang salah kami karena telah berbohong pada Anda. Saya minta maaf atas apa yang terjadi, Pak,” kataku dengan menundukkan kepala.

“Padahal kupikir kamu adalah pria yang baik dan dapat dipercaya. Pada akhirnya, kamu ternyata tidak lebih dari seekor ular pembohong,” ucapnya balik.

“Anda benar. Saya tidak akan menyangkal bahwa menjalankan rencana ini membuat saya menjadi bajingan. Tetap saja, seperti yang sudah saya katakan, mungkin Anda harus mendengarkan apa yang putri Anda katakan sekali saja.”

“Hmph! Tugasku adalah membesarkan putriku, seperti para ayah lainnya. Satu-satunya alasan hal ini terjadi adalah karena kegagalanku membesarkannya dengan benar. Sudah jelas kalau aku terlalu memanjakannya. Karena itu, aku sekarang harus memperbaiki kesalahanku dan membimbingnya ke jalan yang benar. Chiaki berbohong padaku! Dia tidak berhak untuk memberiku alasan menyedihkannya sekarang.”

Tunggu sebentar… Aku sudah memikirkan hal ini sejak tadi, tapi aku merasa orang ini masih percaya kalau aku dan Makiri-sensei jadian, dan dia hanya mempermasalahkan masalah usia. Kurasa dia belum mengetahui kebohongan utamanya.

Sekarang setelah kupikir-pikir, kurasa bukanlah ide yang cemerlang untuk memintaku—seorang remaja, terlebih lagi muridnya—mengisi peran sebagai pacar palsunya. Tetap saja, ayahnya terlalu tidak rasional tentang hal itu.

“Setidaknya Anda bisa mendengarkannya sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan,” kataku mencoba memberikan alasan.

Ayahnya menatapku dengan simpatik. “Aku sadar kamu masih terlalu muda untuk mengerti, tapi kamu harus menyadari satu hal sederhana: ‘hubungan’ kecilmu itu tidak akan pernah diterima di dunia nyata.”

Huh. Dia benar-benar percaya bahwa kami pacaran meskipun usiaku masih muda.

“Lagi pula, kamu tidak melakukan kesalahan apa pun dalam hal ini,” lanjutnya. “Aku akan memanggil taksi dan memastikanmu pulang dengan selamat. Jangan khawatir soal biayanya. Aku akan menanggung ongkosmu. Aku akan secara resmi meminta maaf besok, tapi mulai sekarang, tolong jangan campuri urusan keluargaku. Tidak peduli ‘hubungan’ macam apa yang kau yakini miliki dengan Chiaki.”

Jadi begitukah? Apa dia akan mengabaikan semua yang Makiri-sensei dan aku coba katakan? Namun, di satu sisi, dia ada benarnya—keluarganya adalah urusannya, dan, pada akhirnya, aku mungkin tidak punya pilihan lain selain mengalah. Tetap saja… orang ini seperti bapakku. Seperti itulah caranya, dan ketika dia sudah memutuskan sesuatu, sulit untuk bisa membuatnya berubah pikiran. Tidak heran dia begitu tidak mau mendengarkan kami—dia sudah cenderung berpikir bahwa kami salah apa pun yang terjadi.

Ayah Makiri-sensei menghela nafas, dan Makiri-sensei menatapku dengan ekspresi lembut. Saat itulah sesuatu terlintas: dia mungkin merasa tidak berdaya dalam situasinya saat ini, seperti yang aku rasakan sebelum aku bertemu dengannya dan Ike. Mereka berdua membelaku ketika tidak ada orang lain yang mau. Bahkan ketika aku benar-benar sudah menyerah pada diri sendiri, dia menolak untuk menyerah. Sekarang giliranku untuk membalas budi. Jangan khawatir, Makiri-sensei—aku ada di sini untukmu!

Aku mengepalkan tangan, menatap tepat ke mata ayahnya, dan mengatakan kepadanya, “Tidak. Saya tidak peduli apa yang Anda katakan. Ini urusan saya, mau Anda suka atau tidak.”

“Apa?” bisik Makiri-sensei.

Ayahnya terlihat kesal dengan pembangkanganku, tapi dia malah menoleh ke Makiri-sensei dan berbicara padanya. “Seharusnya aku tidak pernah mengizinkanmu menjadi guru sejak awal. Kamu sendiri menyadari betapa salahnya ini, kan? Berhentilah melibatkan orang lain dalam kesalahan bodohmu! Tapi, meskipun kamu ternyata gagal dalam hal itu, ini belum begitu terlambat. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan kesalahan seperti itu lagi. Kamu harus ikut bekerja denganku di perusahaan. Ini perintah.”

Aku tahu segala yang ayahnya katakan adalah bentuk kekhawatirannya pada Makiri-sensei, tapi itulah alasan yang lebih kuat bagiku untuk ikut campur. Ayahnya berpikir bahwa dia bisa menyelesaikan segalanya dengan caranya sendiri. Aku mungkin bukanlah protagonis dalam cerita ini seperti Ike—sialan, aku yakin Ike akan jauh lebih tenang dalam situasi ini—tapi aku tidak akan membiarkan dia bertindak semaunya. Aku akan membela Makiri-sensei, seperti yang dia dan Ike lakukan untukku dulu.

“Anda bilang sebelumnya bahwa hubungan saya dengan Makiri-sensei sama sekali tidak berarti, kan?” tanyaku.

“Memang tidak.”

“Dan bagaimana Anda bisa sampai pada kesimpulan itu?! Huh?!” bentakku. “Dia adalah orang dewasa pertama yang pernah saya hormati sepanjang hidup saya. Tahun lalu, dia adalah satu-satunya guru yang benar-benar peduli pada saya—guru lain hanya berasumsi bahwa saya hanyalah preman berdasarkan penampilan dan mengabaikan saya. Ditambah lagi saya memiliki masalah sosial yang besar, jadi saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya akan sendirian selamanya dan kehilangan semua harapan untuk berteman. Namun Makiri-sensei tetap teguh pada pendiriannya dan mendukung saya ketika tidak ada orang lain yang melakukannya. Terlepas dari ketidakmampuan saya dalam mengekspresikan perasaan saya yang sebenarnya, dia berhasil mengabaikan penampilan saya dan mengulurkan tangan untuk membantu saya kembali ke jalur yang benar. Tentu, saya masih memiliki banyak masalah di sekolah, tapi setidaknya saya bisa mendapatkan beberapa teman. Saya berhutang semua yang saya miliki hari ini padanya. Dia adalah salah satu orang terpenting dalam hidup saya.”

“Tomoki-kun…” bisiknya.

“Semua kekacauan ini bukanlah salah Makiri-sensei. Dia orang yang baik dan tidak pantas diperlakukan seperti ini,” kataku.

“Aku harus minta maaf, Tomoki. Aku mungkin terburu-buru mengambil kesimpulan tertentu tanpa berpikir panjang…” gumam ayahnya, hampir terlihat kehilangan tenaga.

Bagus. Semoga ini berarti dia memahami sudut pandangku dengan lebih baik sekarang.

“Kamu… Kamu masih terlalu muda, nak. Tetap saja, aku percaya berkat usiamu yang masih muda, kamu dapat mengekspresikan diri seperti yang baru saja kamu lakukan. Aku yakin kamu masih memiliki banyak hal yang dapat dialami dalam hidup, tapi—mungkin dalam hal ini—kamu memahami perasaan putriku lebih baik daripada aku. Baiklah. Aku akan mengizinkan kalian berdua untuk tetap bersama.”

Tunggu, tidak! Sialan! Dia mungkin salah mengartikan bahwa seluruh perkataanku adalah tentang alasan kenapa aku jatuh cinta pada Makiri-sensei! Aku seharusnya menjelaskannya sebelumnya. Sialan! Aku mengacau! Aku harus memperbaikinya sebelum keadaan menjadi semakin buruk. Berpikir, Yuuji, berpikirlah! Pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan. Apa yang bisa aku katakan untuk membuatnya mengerti bahwa ini semua adalah kesalahpahaman besar? Aku tidak bisa memikirkan apa pun! Sialan!

“Tidak apa-apa, Tomoki-kun,” ucap Makiri-sensei dari belakangku, lalu aku berbalik dan menatap matanya. Dia menangis dengan lembut, air mata kecil mengalir di pipinya. “Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Terima kasih.”

Apakah dia menyiratkan bahwa aku harus menyerah? Tapi… Baiklah. Kurasa aku harus menunggu dan melihat apa yang akan Makiri-sensei katakan tentang ini.

“Ayah, aku minta maaf telah berbohong pada Ayah. Seharusnya aku membawa pacar sungguhan—seorang calon yang Ayah sukai. Aku minta maaf karena membuat Ayah sangat khawatir padaku,” katanya sambil membungkuk, tatapannya sekarang penuh tekad. “Aku tahu ini mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi aku ingin jatuh cinta dengan seseorang yang kuanggap sebagai ‘jodoh’-ku. Itulah sebabnya aku tidak ingin dijodohkan. Aku seharusnya berbicara dengan Ayah tentang ini sebelumnya.”

Kamu berhasil, Sensei! Kamu akhirnya memberi tahu dia bagaimana perasaanmu yang sebenarnya! Bagus!

“Apakah kamu sadar apa yang kamu katakan sekarang?” tanya ayahnya.

“Aku akan selalu menjadi putri Ayah, dan Ayah akan selalu menjadi ayahku. Kenyataan itu tidak akan pernah berubah. Aku juga mengerti maksud Ayah ketika Ayah mencoba menamparku sebelumnya.”

“Lalu kenapa kamu tidak mau mendengarkan apa yang aku minta darimu?!” teriaknya.

“Contoh macam apa yang akan aku berikan kepada muridku jika aku secara membabi buta mematuhi semua yang Ayah katakan tanpa ragu? Sebagai seorang guru, aku memiliki tanggung jawab terhadap mereka.”

“Bah! Kayak orang gagal sepertimu bisa mengajarkan soal nilai-nilai saja!”

“Aku tidak menyangkal bahwa aku memiliki kesalahan, sama seperti yang lainnya. Aku tidak sempurna. Karena sesungguhnya tidak ada yang sempurna. Aku telah bergantung pada alkohol lebih dari sekali. Malahan aku bahkan harus meminta salah satu siswaku untuk menjemputku ketika aku hampir pingsan… beberapa kali. Tapi apakah Ayah tahu? Itu artinya aku bisa bersimpati dengan murid-muridku. Aku tahu bagaimana perasaan mereka saat tersesat dan sendirian, karena aku merasakan hal yang sama persis! Dan adalah tugasku sebagai seorang pendidik untuk menunjukkan kepada mereka fakta itu—bahwa setiap orang memiliki kekurangannya sendiri!”

“Kamu hanya berusaha membenarkan kelemahanmu sendiri. Jangan pikir kamu akan dapat meyakinkanku dengan kebohongan itu.”

“Mungkin Ayah benar. Tapi karena ‘kelemahan’-ku itulah, aku dapat tumbuh lebih dekat dengan murid-muridku. Mereka bukanlah satu-satunya yang tumbuh sebagai manusia—aku juga tumbuh bersama mereka. Sebagai buktinya… Aku tidak akan pernah mengira bahwa seseorang akan mengatakan bahwa mereka berhutang nyawa padaku.”

Dia melirikku saat dia berbicara, dan aku mengangguk dalam diam. “Itulah sebabnya, sebagai seorang guru, aku dengan bangga menyatakan bahwa menurutku aku tidak mengambil jalan hidup yang salah. Aku ingin terus melakukan apa yang aku lakukan, dan aku ingin murid-muridku menghormatiku dan pilihan hidupku!”

Gelombang kelegaan dan kebahagiaan menyapuku. Dia akhirnya mendapatkan keberanian untuk menghadapi ayahnya. Mungkin ini membuatku selangkah lebih dekat dalam membalas budiku kepadanya, untuk menunjukkan rasa terima kasihku yang besar padanya.

Makiri-sensei menatap ayahnya dengan ekspresi dingin dan tenang seperti biasa. Tidak ada tanda ketakutan yang bisa ditemukan di wajahnya lagi. Dia menyatakan, “Aku mungkin putri Ayah, tapi bukan itu satu-satunya identitasku. Di hadapan masyarakat, dan di mata murid-muridku, aku adalah seorang guru! Aku orang dewasa yang pantas mendapatkan rasa hormat yang sama seperti yang lainnya. Pilihanku dibuat oleh-ku, untuk-ku—aku akan melakukan yang terbaik untukku dan hidupku. Ditambah lagi, aku berencana untuk dapat bertemu ‘jodohku’ suatu hari nanti, untuk jatuh cinta dan menikmati cahaya asmara sejati.”

Sial, jujur saja—dia terdengar sangat keren sehingga aku mungkin akan sedikit jatuh cinta padanya.


Ayah Makiri-sensei terdiam beberapa saat setelah mendengarkan perkataannya. Matanya berbinar-binar, dan dia mengamati Makiri-sensei dengan tatapan penuh hormat sekarang.

“Ini mungkin pertama kalinya kamu begitu terbuka tentang perasaanmu. A… Ayah rasa kamu bukan gadis kecil lagi. Haaah. Nah, mengingat perasaanmu terhadap pernikahan, Ayah rasa tidak benar memperkenalkanmu kepada calon mana pun. Ayah akan menerima kesalahan dan meminta maaf kepada pria yang rencananya akan Ayah jodohkan padamu. Haaah. Lakukanlah apa pun yang kamu inginkan mulai sekarang—Ayah tidak peduli.”

Kata-katanya menusuk, tapi apakah aku merasakan sedikit rasa lega di matanya?

“Begitulah rencanaku. Terima kasih, Ayah,” jawabnya sambil tersenyum.



Ayahnya menoleh ke arahku, tersenyum tipis, dan berkata, “Tidak sopan bagiku untuk tidak memperkenalkan diri sejak awal. Namaku Sennouji Makiri, tapi kamu bisa memanggilku Sennouji. Ngomong-ngomong, Tomoki—atau, haruskah aku memanggilmu, Yuuji—mungkin ini sedikit lebih awal, tapi apakah kamu mau bergabung dengan kami untuk makan malam?”


Kami pindah ke ruang makan. Aku dan Makiri-sensei duduk bersebelahan, sementara Sennouji duduk di seberang menghadap kami.

Salah satu asisten rumah tangga mengantarkan piring kami, yang telah disiapkan sebelumnya oleh wanita yang menyajikan kami teh sebelumnya. Kurasa dia sudah pergi, yang agak disayangkan—hidangannya adalah salah satu makanan paling mewah yang pernah aku lihat. Dia pasti memiliki bakat yang luar biasa.

“Silakan dinikmati,” kata Sennouji, dengan memegang sumpit di tangannya.

“Selamat makan,” kataku dan Makiri-sensei bersamaan.

Aku memakan segigit dan langsung berkata, “Wah! Ini fantastis!”

Serius, ini sangat enak sehingga aku ragu aku bisa berhenti makan meski mencobanya.

“Takuma selalu menyiapkan makanan yang luar biasa,” tambah Makiri-sensei dengan senyum di wajahnya.

Entah kenapa, Sennouji sepertinya tidak senang dengan itu. Apakah ada masalah?

“Ayah tidak akan menyangkal bahwa dia pandai memasak, tapi menurut Ayah masakanmu jauh lebih enak,” katanya pada Makiri-sensei dengan sedikit tersipu.

“Ya, saya akui—keterampilan memasak Makiri-sensei sangat hebat,” tambahku.

“Senang mengetahui kamu mengerti,” jawabnya sambil tersenyum.

“B-Bisakah kita membicarakan sesuatu yang tidak terlalu memalukan?” pinta Makiri-sensei sambil tersipu.

Untuk sementara, kami makan dan mengobrol santai. Namun, tiba-tiba, Sennouji menoleh padaku dan bertanya, “Ngomong-ngomong, Yuuji, aku harus bertanya—pernahkah kamu berpikir untuk mengejar karir di bidang hukum?”

“Kenapa Ayah menanyakan itu padanya?” ujar Makiri-sensei, yang jelas bingung dengan pertanyaannya.

“Ayah tidak bertanya padamu, Chiaki. Biarkan pemuda ini menjawab. Jadi, Yuuji? Tidak banyak anak muda sepertimu di firmaku. Mereka tidak punya nyali untuk berbicara dengan tenang seperti yang kamu lakukan. Aku bisa memberimu pekerjaan jika kamu mau.”

Kurasa dia menyukaiku, dan itu bukan hal yang buruk. Malahan, aku lega—aku tadi cukup yakin bahwa dia melihatku tidak lebih dari anak nakal yang menyebalkan.

“Saya belum benar-benar memutuskan apa pun, tapi saya pasti akan mempertimbangkan kesempatan itu… itu pun jika Anda tidak keberatan,” jawabku.

“Untuk saat ini tidak masalah. Pastikan mengingatnya untuk masa depanmu, Nak,” katanya sambil tersenyum.

“Dan sekarang kalian berdua membicarakan masa depan?” gumam Makiri-sensei, lebih tersipu dari sebelumnya.

Kurasa dia tidak senang ayahnya mencoba meyakinkanku untuk mengikuti jalan tertentu. Maklum saja, dia adalah guruku—secara teknis dialah yang seharusnya menasihatiku tentang prospek masa depanku.


“Yuuji, ini sudah sangat larut. Berhubung kamu sudah makan malam, kamu bebas mandi di sini kalau kamu mau,” ujar Sennouji setelah kami selesai makan dan membereskan piring.

“Ayah, ingatlah bahwa Tomoki-kun tidak boleh pulang terlalu larut,” tegur Makiri-sensei.

“Oh, ayolah. Tidak perlu seperti itu. Ayah tidak keberatan menunjukkan kamar mandi Ayah padanya, biarkan dia melihat-lihat.”

Aku tahu dia sudah menyukaiku, tapi tidak kusangaka sampai seperti ini.

“Tentu. Jika Anda bersikeras,” jawabku.

Makiri-sensei menghela nafas putus asa sementara ayahnya menyeringai mendengar jawabanku.

Aku mengambil satu set handuk dan pergi ke kamar mandi. Ada ruang ganti tepat di luar kamar mandi tempatku melepas pakaian terlebih dahulu sebelum masuk.

“Sial, ini bak mandi! Dan terlebih lagi bergaya klasik Jepang!”

Aku takjub melihat perabotan ruangannya. Tempat itu pada dasarnya menyerukan “Jepang”—terutama bak kayu tradisional besar yang dapat dengan mudah menampung beberapa orang dewasa di dalamnya. Ya, tentu saja aku terkejut.

Aku membilas rambut dan badanku. Saat aku sedang dalam proses membersihkan diriku hingga bersih, aku mendengar suara pintu terbuka.

“Jadi? Apa pendapatmu tentang kamar mandiku?” tanya Sennouji dari pintu masuk.

Aku melirik ke arahnya. Pria itu telanjang seperti pada hari dia dilahirkan, dan dia sangat gagah. Seperti, dia sangat bugar sehingga aku akan percaya jika dia berbohong dan bilang kalau dia 10 tahun lebih muda.

“Luar biasa, Pak. Saya suka bak mandi besar, jadi impian saya kurang lebih sudah terwujud sekarang,” jawabku.

Dia tersenyum kecil dan mengangguk. “Kamu benar. Aku bahkan tidak membiarkan Takuma menyentuh tempat ini—akulah yang menangani pemeliharaannya. Itu adalah tempat favoritku dari seluruh area di rumah ini.”

“Ngomong-ngomong, kenapa Anda ada di sini?” tanyaku.

Kurasa dia tidak mendengar pertanyaanku, karena dia berjalan dalam diam tanpa jawaban.

“Um… Saya bertanya-tanya kenapa Anda ada di sini, Sennouji,” ulangku sedikit lebih keras.

“Oh, aku berpikir untuk membasuh punggungmu. Apakah kamu keberatan?”

Oh, dia ingin aku memanggil namanya. Dia agak menawan dengan caranya sendiri.

“Saya tidak keberatan, tapi hanya jika Anda mengizinkan saya membasuh Anda juga setelahnya,” jawabku.

“Hahaha! Baiklah!” serunya sepenuh hati.

Dia mengambil handuk, menyabuninya dengan banyak, dan mulai menggosok punggungku. Dia mengerahkan tenaga ke dalamnya, yang membuat ini terasa cukup enak.

“Hei, Yuuji…” dia angkat bicara.

“Ya?”

“Sudah berapa lama kamu pacaran dengan Chiaki sekarang?”

Sial, kami belum menyelesaikan kesalahpahaman itu, ya? Sudah waktunya untuk mengaku.

“Um, saya dan Makiri-sensei sebenarnya tidak pacaran atau semacamnya,” jawabku.

“Hahaha! Sungguh lelucon yang lucu, anak muda. Kamu benar-benar berpikir gurumu akan membawamu ke sini untuk bertemu ayahnya hanya karena ‘iseng’?”

Ya ampun, aku tidak bisa berkata apa-apa sebagai tanggapan. Kuharap aku dapat menunjukkan bahwa ini semua pada akhirnya adalah ide Makiri-sensei, tapi aku sedang ketakutan sekarang. Sesuatu tentang melihat senyumnya membuatku merasa terlalu terintimidasi untuk menjawab.

“Namun, aku mengerti kenapa kamu merasa harus bersikap seperti itu, mengingat bagaimana masyarakat akan mencemooh hubungan kalian. Aku akan berasumsi bahwa kamu bilang begitu padaku karena itulah yang normalnya harus kamu lakukan. Kuharap, seiring bertambahnya usia, kamu akhirnya akan terbuka padaku soal hubungan kalian. Aku ingin mendukungmu dan putriku sebanyak yang aku bisa, oke?”

Aku mendeteksi nada kesedihan dalam suaranya, tapi aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Dia berhenti membasuh punggungku sejenak dan melanjutkan, “Aku telah menjadi ayah yang buruk. Segala sesuatu yang sudah aku lakukan adalah untuknya—dia adalah cahaya hidupku, selalu begitu… meskipun agak meredup ketika istriku meninggalkan kami. Aku yakin Chiaki tidak merasakan apa-apa selain kesepian setelah istriku meninggal, namun dia tidak pernah sekalipun mengeluh tentang apa pun yang aku putuskan untuknya. Dan izinkan aku memberi tahumu, tidak setiap pilihan yang aku buat adalah pilihan yang benar. Salah satunya adalah aku salah dalam mengasuhnya. Aku tidak pernah membiarkan dia menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, aku selalu mendorong apa yang menurutku benar tanpa meminta pendapatnya, dan dia akhirnya menjadi gadis lugu karenanya. Kupikir satu-satunya cara agar dia tidak dimanfaatkan oleh pria brengsek adalah melalui perjodohan dengan seseorang pilihanku… seseorang yang kuanggap sebagai pasangan yang cocok untuknya. Aku tidak pernah menyadari bahwa dia telah berkembang menjadi orang dewasa seutuhnya, menjaga dan mencari kebahagiaan hidupnya sendiri. Aku seharusnya memercayai putriku, dan itu adalah sesuatu yang harus aku akui salah selama sisa hidupku.”

Suaranya dipenuhi penyesalan. Aku mengambil ember terdekat, menuangkan air ke seluruh tubuhku, berdiri, mengambil handuk darinya, dan bergantian mulai menggosok punggungnya. Aku menaruh sedikit kekuatan ke dalamnya, dan dia tampak terkejut karenanya.

“Apa yang kamu…” dia mulai bertanya, tapi terdiam.

“Makiri-sensei pernah memberitahu saya bahwa punggung saya cukup lebar, dan itu mengingatkannya pada Anda. Tapi saya merasa dia salah akan satu hal,” kataku.

Dia tetap diam, menungguku melanjutkan isi pikiranku.

“Saya setuju bahwa punggung Anda cukup lebar, sama seperti saya. Tapi dia menyiratkan bahwa saya mengingatkannya pada Anda, dan di situlah saya merasa dia salah. Andalah yang sendirian menanggung hidup putri Anda selama ini, bukan saya. Sejujurnya, itu membuat saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah bisa menjadi setengah saja dari pria seperti Anda saat ini. Saya tahu pasti bahwa Anda sangat menyayanginya, Sennouji. Dia mengatakan kepada saya bahwa Anda melakukan yang terbaik untuk membesarkannya, dan bahwa dia bangga menjadi putri Anda,” kataku padanya sambil menuangkan seember air panas ke punggungnya untuk membersihkan sabun. Aku benar-benar menghormatinya untuk itu.

“Chiaki… Chiaki mengatakan itu tentangku?” kata Sennouji serak, suaranya sedikit bergetar seolah-olah dia hampir menangis.

“Benar,” jawabku.

“B-Begitu ya…”

Aku mendengar dia mulai menangis. Bahunya gemetar saat dia mencoba menghapus air matanya secara diam-diam agar aku tidak melihatnya. Kurasa dia memiliki alasan untuk semua yang dia lakukan dan katakan ketika kami bertemu dengannya pagi ini. Namun, satu hal yang pasti, terutama setelah mendengarnya menangis—dia benar-benar peduli pada putrinya.

Dia berdiri, menghadapku, dan membungkuk. “Yuuji! Dia segalanya bagiku, hartaku! Tapi aku sepenuh hati percaya bahwa kamu dari semua orang yang ada bisa membuatnya bahagia! Aku tahu bahwa hubungan kalian akan penuh dengan kesulitan, tapi aku percaya kamu akan dapat melindungi dan menjaga Chiaki dengan sebaik mungkin. Jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan—apa saja—beri tahu aku. Biarkan aku membantumu dengan cara apa pun yang aku bisa.”

Aku harus mengatakan kebenaran ini padanya. Semakin lama ini berlangsung, semakin buruk jadinya.

“Saya benar-benar minta maaf telah mematahkan harapan Anda, tapi saya tidak bercanda saat berkata bahwa saya dan Makiri-sensei tidak pacaran.”

Aku tahu ini keras, tapi dia berhak tahu.

“Kamu laki-laki yang keras kepala, aku akui itu. Kamu mengingatkanku pada diriku sendiri ketika aku seusiamu. Aku menyukaimu,” katanya sambil tertawa riang. “Oke, lakukanlah sesuai caramu. Kalian berdua jelas tidak pacaran. Tapi bagaimanapun juga aku akan tetap mengatakan ini—aku serahkan Chiaki padamu.”

Astaga, perkataanku tidak sampai padanya. Sialan. Lupakan tentang menggali lubang sendiri—aku sama saja telah menggali kuburanku sendiri di sini, kan?



Yuujin-chara no Ore ga Motemakuru Wakenaidarou? Bahasa Indonesia [LN]

Yuujin-chara no Ore ga Motemakuru Wakenaidarou? Bahasa Indonesia [LN]

There’s no way a side character like me could be popular, right?
Score 9.1
Status: Ongoing Type: Author: Artist: , Released: 2018 Native Language: Jepang
“Karena aku sangat mencintaimu, Senpai!” Namaku Tomoki Yuuji, siswa SMA kelas dua. Aku bisa mengatakan bahwa aku adalah seorang siswa yang cukup normal, kecuali fakta bahwa semua orang menghindariku seperti wabah karena aku terlihat seperti haus darah. Ike Haruma adalah satu-satunya yang tidak menjauhiku. Dia tipikal ‘pria sempurna’ dalam segala hal; protagonis tanpa cacat yang biasa kau lihat di setiap cerita. Kehidupan di sekolah terus berjalan seperti biasa… sampai suatu hari, adik perempuan Haruma yang super populer itu menyatakan cinta padaku tiba-tiba?! Meskipun dia kemudian mengklarifikasi bahwa perasaannya terhadapku sama sekali tidak romantis dan dia memiliki motif tersembunyi, au akhirnya menerima peran baruku sebagai ‘pacar palsu’ sebagai bantuan untuk Haruma. Percaya atau tidak, saat aku mulai berkencan dengannya, teman masa kecil Haruma yang seperti idol dan guruku yang super cantik ikut terlibat denganku juga! Tunggu sebentar. Ini tidak mungkin skenario rom-com impian yang diatur sendiri untukku, kan?! Maksudku, tidak mungkin karakter sampingan sepertiku bisa menjadi populer, kan?  

Comment

Options

not work with dark mode
Reset