[LN] Isekai Romcom Volume 2 Bab 1.2 Bahasa Indonesia

Bersiap Menghadapi Pertandingan Bola (Bagian 2)

Bab 1: Bersiap Menghadapi Pertandingan Bola

2


Setelah Hisamura pergi, Sei pun masuk ke rumah dan makan malam.

Dia lupa bahwa dia belum makan malam sampai lewat jam 9 malam.

“Aku merasa bersalah…”

Jika Sei belum makan, itu berarti Hisamura yang menemaninya selama itu juga belum makan.

Dia semakin merasa bersalah ketika menyadari bahwa Hisamura sudah terlalu lama menemaninya latihan bola basket sehingga Hisamura terpaksa melewatkan makan malam.

(Namun, mengenal sifatnya… Dia mungkin hanya akan bersikap baik dan berkata “Jangan dipikirkan kok.”)

Dia tersenyum kecil saat memikirkan hal itu.

Hisamura terlalu baik sehingga mudah untuk membayangkan dia mengatakan sesuatu seperti itu.

(Benar-benar dia itu… jika aku ini gadis nakal, dia hanya akan dimanfaatkan saja.)

Hisamura adalah orang yang sangat baik dan lembut sehingga jika orang yang dia sukai adalah wanita yang jahat, kemungkinan besar dia akan diperlakukan dengan buruk.

Meski Sei sendiri yang membayangkan hal itu, mau tak mau dia merasa sedikit kesal saat memikirkannya.

(Yah, aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku bukan salah satu dari wanita jahat itu. Yah, kurasa itulah sebabnya Hisamura j-jatuh cinta padaku… Selain itu aku juga benar-benar mencintai Hisamura dan itulah sebabnya kami pacaran…)

Padahal Sei hanya bicara dalam hati, tapi wajahnya memerah saat memikirkan itu.

Tapi, karena ibunya masih ada di ruang tamu, jadi dia tidak bisa banyak-banyak menggeliat.

Sei berusaha untuk tidak terlalu memikirkan Hisamura sampai dia selesai makan dan kembali ke kamarnya.

× × ×


Saat sedang mandi, Sei mengingat kembali kejadian hari ini.

Sudah lama sejak dia melakukan aktivitas fisik yang serius, jadi tubuhnya terasa sedikit lelah.

Mandi di saat seperti ini selalu terasa lebih nikmat dari biasanya, sehingga Sei memutuskan untuk mandi lama-lama.

Aaaah… Enak sekali.”

Dia membenamkan tubuhnya hingga ke bahu, dan desahan lega keluar dari bibirnya.

Saat berendam di bak mandi, dia memijat lembut lengan dan kakinya seolah-olah untuk merilekskan tubuhnya yang terlalu banyak bekerja hari ini.

Itu dia lakukan untuk mencegah nyeri otot atau masalah lain keesokan harinya.

Saat memijat dirinya sendiri di bak mandi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

“…Apakah ini tambah besar lagi?”

Ada dua setengah lingkaran yang mengambang tepat di bawah garis pandangnya.

Meski hanya berdasarkan penglihatannya saja, dia merasa ukurannya tumbuh menjadi lebih besar dari sebelumnya.

Itu sudah mulai tumbuh ketika dia masih SMP, dan sekarang itu menjadi sesuatu yang dianggap “besar” oleh siapa pun.

Bagi Sei, sejujurnya itu cukup mengganggu.

“Tapi, Shiho selalu marah kalau aku berkata begitu…”

Dari sudut pandang mereka yang tidak memilikinya, tampaknya sangat menjengkelkan ketika orang-orang yang memilikinya bilang kalau mereka tidak menginginkan itu.

Suatu hari, Sei ingat pernah bercanda dengan berkata, “Aku tidak keberatan memberikanmu setengahnya,” dan Shiho pun memasang ekspresi paling menakutkan yang pernah dia lihat.

Meskipun Sei sedang mandi sekarang, dia bergidik saat mengingat momen itu.

Setelah itu, dia berusaha untuk tidak terlalu banyak menyinggung topik itu dengan Shiho.

“…Aku penasaran tipe yang mana yang lebih disukai Hisamura.”

Sei tanpa sadar menggumamkan hal itu, dan tentu saja, dia merasa malu sendiri hingga wajahnya menjadi merah padam.

“T-Tidak, bukan berarti aku peduli dengan apa yang dia suka, lho…!”

Meskipun dia mengatakan itu dengan keras, akan bohong kalau dia bilang bahwa dia tidak peduli sedikit pun.

(K-Kudengar pria pada umumnya lebih suka yang besar… Tapi, aku juga pernah dengar bahwa ada orang-orang yang lebih suka yang kecil. Aku penasaran Hisamura tipe yang mana…)

Tentu saja, sebagai pacar Hisamura, dia akan senang jika dirinya sesuai dengan selera Hisamura.

Namun itu bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan usaha.

Dan meskipun kalian mungkin dapat membuat yang kecil jadi besar, namun kalian tidak dapat membuat yang besar jadi lebih kecil.

(Satu-satunya cara untuk mengetahui seleranya adalah dengan menanyakannya secara langsung, tapi… M-Mana mungkin aku bisa menanyakan hal seperti itu padanya!)

Lagipula hubungan mereka belum berkembang cukup jauh untuk menanyakan hal-hal seperti itu.

Meski sudah hampir sebulan sejak mereka mulai pacaran, hubungan mereka cukup sehat—masih hanya sebatas pegangan tangan.

(T-Tapi, yah… Aku ingin kami bergandengan tangan seperti s-sepasang kekasih…)

Dia tidak bisa menahan senyum, dan ketika dia menyadari hal ini, dia menyembunyikan mulutnya dengan berendam lebih dalam di bak mandi.

Dalam perjalanan pulang dari Around One hari ini, mereka boncengan sepeda bersama, jadi mereka tidak bisa berpegangan tangan.

Namun, alih-alih berpegangan tangan, jaraknya malah semakin dekat ke punggung Hisamura dan dia meletakkan tangannya di bahu Hisamura.

Itu adalah kali pertamanya melihat punggung Hisamura. Punggung Hisamura lebih besar dari yang dia bayangkan, dengan struktur bahu yang kokoh, yang tidak dimiliki oleh wanita seperti dirinya, dan itu membuatnya merasa sedikit gugup.

Dia merasa sangat senang dapat berada sedekat itu hingga dia bisa merasakan panas tubuh Hisamura dari punggungnya, dan itu memberikan Sei sensasi yang berbeda dari berpegangan tangan.

Dan akhirnya, saat Hisamura mengantarnya pulang, Sei bertanya-tanya apakah dia harus bersikap sedikit manja.

Hal ini dipicu oleh saran Hisamura sebelumnya saat bersepeda bahwa dia akan senang jika Sei lebih bersikap manja padanya.

Namun, Sei menahan diri karena dia tidak yakin bagaimana harus bersikap manja dan merasa terlalu malu untuk melakukan itu secara tiba-tiba.

Tindakan manja yang terlintas di pikirannya saat itu adalah elusan kepala.

Sebagai seseorang yang tidak memiliki pengalaman dalam cinta, Sei memikirkan adegan dari manga shounen yang dia sukai karena kakaknya, di mana kepala sang cewek dibelai oleh pemeran utama pria.

Sang heroine tampak malu tapi juga senang ketika protagonis mengelus kepalanya.

Itulah yang terlintas di benak Sei saat mencoba bersikap manja dengan Hisamura.

Namun, sulit baginya untuk tiba-tiba meminta Hisamura mengelus kepalanya, jadi dia pun tidak bisa mengatakan itu.

“…Mungkin aku akan mencoba mengatakannya lain kali.”

Dia mengatakan itu sambil berendam sebatas bahu di bak mandi sementara pipinya memerah tua sekali lagi.

Lalu tiba-tiba, ponselnya yang diletakkan di pinggir bak mandi berdering.

Whoa!”

Terkejut dengan suara yang tiba-tiba itu, dia pun menenangkan diri dan mengambil ponsel tahan air-nya di kamar mandi.

Alasan ponselnya berdering adalah karena dia menerima pesan di RINE.

Dia membuka aplikasi untuk melihat siapa pengirimnya, dan itu ternyata dari Shiho.

Dan…

Ngomong-ngomong, kamu pergi ke kafe bersama Hisamura-kun hari ini, kan? Apa terjadi sesuatu?

Begitulah isi pesannya.

“Apa maksudnya dengan ‘apa terjadi sesuatu’?”

Sei refleks mengucapkannya dengan keras, tapi dia memutuskan untuk membalas pesannya sekarang.

Ya, benar. Aku tidak mengerti maksudmu dengan apa terjadi sesuatu, tapi setelah dari kafe, kami pergi ke Around One bersama-sama.

Begitu dia mengirim itu, pesannya langsung dibaca, dan beberapa detik kemudian, dia menerima balasan.

Kalau begitu, kalian pergi bermain ya! Apakah kamu bersenang-senang?

Daripada dibilang bermain, lebih tepatnya dia menemaniku latihan basket. Tapi yah, itu menyenangkan, kok.

Latihan untuk pertandingan bola, ya? Sampai jam berapa kalian di sana?

Sampai jam 9 malam.

Wow!? Sungguh menakjubkan mendengar Sei-chan berlatih selama itu, tapi Hisamura-kun, yang menemanimu, juga baik hati.

Ya, dia sangat membantu.

Apakah kamu menciumnya sebagai ucapan terima kasih?

“HAH?!”

Pesan dari Shiho membuatnya berteriak sangat keras di kamar mandi.

Suara Sei bergema di kamar mandi, dan dia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan.

Kecepatan mengetiknya menjadi lebih cepat dari sebelumnya, dan kekuatan saat dia mengetuk layarnya juga menjadi lebih kuat.

Gaklah!

Eh, jangan-jangan kalian bahkan belum berciuman?

Mana mungkin, kan! Kami baru pacaran selama sebulan, tau!

Benar juga sih, tapi dengan betapa mesranya Sei-chan dan Hisamura-kun, kupikir kalian sudah melakukannya.

“M-M-M-M-Mesra?!”

Sei tidak menyangka bahwa Shiho akan berpikiran seperti itu.

Dia pun membalas pesan itu, berusaha untuk tidak menunjukkan kegugupannya.

KAMI TIDAK BERMESRAAN!”

Tapi, buankah kalian kadang-kadang berpegangan tangan saat istirahat makan siang?

‘K-Kok dia bisa tahu!?”

Sei tidak pernah mengira kalau ada orang yang mengetahuinya.

Saat istirahat makan siang di sekolah, mereka berlima akhir-akhir ini makan bersama, dengan Hisamura duduk tepat di sebelah Sei.

Minggu lalu, setelah selesai makan dan mengobrol, Hisamura tiba-tiba memegang tangan Sei di bawah meja.

Pada awalnya, Sei merasa sangat kaget dan bingung sampai-sampai siapa pun akan melihatnya dan bertanya apakah ada masalah.

Dia segera memperingatkan Hisamura dengan suara pelan, namun Hisamura tidak pernah mengindahkan dan sesekali tetap memegang tangan Sei.

Saat mereka berlima makan, teman sekelas memperhatikan mereka, tapi mereka cenderung melihat ke arah Shigemoto, Shiho, dan Toujoin, jadi Sei dan Hisamura tidak terlalu menarik perhatian.

Dan karena mereka makan di kursi paling belakang kelas, maka tidak ada siswa lain di sisi tempat Sei dan Hisamura duduk.

Jadi, meskipun mereka berpegangan tangan di bawah meja, tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya.

Memanfaatkan hal itu, Hisamura akan memegang tangan Sei dan sangat menikmati reaksinya.

Itu karena Hisamura dengan paksa meraih tanganku… Kami bukan berpegangan tangan!

Sei mengirim pesan yang terdengar seperti alasan.

Um, tapi kalian berpegangan tangan seperti sepasang kekasih, kan? Selain itu, Sei-chan, kamu juga melakukannya, kan?

“S-Seriusan, kok dia bisa tahu sih? Mungkinkah Hisamura yang memberitahunya!?”

Memang benar, Jumat lalu, Sei memegang tangan Hisamura seolah ingin membalas dendam.

Reaksi Hisamura sangat menarik dan itu balas dendam yang sangat memuaskan. Tapi, tidak lama setelah itu, Hisamura membalas Sei dengan saling mengaitkan jari-jari mereka layaknya kekasih.

Dia sama sekali tidak menyangka Shiho akan mengetahui hal itu.

Aku hanya memegang tangannya sekali! Dan itu juga untuk membalas dendam setiap kali Hisamura memegang tanganku. Adapun pegangan tangan kekasih, Hisamura-lah yang memulainya!

Hehe, Sudah kuduga kalau Sei-chan memang memegang tangannya juga. Apalagi sampai pegangan tangan kekasih.

Eh? Apa maksudmu?

Yang aku tahu hanyalah kalian berdua pegangan tangan di bawah meja. Tapi pegangan tangan kekasih itu baru saja diberitahukan padaku oleh Sei-chan sendiri.”

Aku merasa hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya.

“AKU DIJEBAK LAGI…!”

Saat masih di kamar mandi, Sei memutuskan untuk menelepon Shiho seperti sebelumnya.

Telepon berdering dua kali dan terhubung.

Halo, Sei-chan?

“…Shiho, kamu menjebakku lagi.”

Ahahaha, maaf. Tapi, karena Sei-chan sendiri yang memberitahuku, menurutku itu bukan sepenuhnya salahku, kan…?

“Oke, oke. Kurasa kamu tidak memerlukan pelajaran memasak dariku lagi, Shiho.”

Maafkan aku, Sei-chan. Itu salahku.

Shiho langsung meminta maaf.

Jika Sei yang pandai memasak saja kesulitan untuk mengajarinya, bagaimana mungkin Shiho bisa belajar memasak sendiri?

Jika dia berlatih sendiri, mungkin akan butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mahir.

Ngomong-ngomong, Sei-chan, suaramu terdengar bergema di telepon. Kamu menelepon di mana?

“Di kamar mandi. Aku berendam lebih lama karena aku telah berlatih keras hari ini.”

Oh, begitu ya… Bisakah kita beralih ke video call?

“Aku sih gak keberatan, tapi buat apa?”

Gak apa-apa kok, cuma iseng aja.

Karena tidak ada alasan khusus untuk menolak, jadi Sei pun menerima ajakan Shiho dan beralih ke video call.

Saat berendam di bak mandi, Sei memegang ponselnya secara vertikal agar wajahnya terlihat.

“Apakah begini bagus?”

Ya! Sei-chan, sudah lama tidak bertemu!

“Kita bertemu di sekolah hari ini, jadi ini baru beberapa jam, lho.”

Ahaha, benar juga. –Ugh!

“Ada apa?”

Melihat ekspresi pahit Shiho di layar, Sei bertanya dengan penasaran.

Tidak… Aku beralih ke video call untuk ini, tapi, sudah kuduga melihatnya masih tetap membuatku sakit…”

“Apa maksudmu?”

“AKU NGOMONGIN DUA GUNUNG YANG MENGAPUNG DI AIR ITU, SEI-CHAN!”

“Apa? K-Kamu video call hanya untuk itu!?”

Merasa malu saat diucapkan blak-blakan begitu, Sei langsung menutupi dadanya dengan tangan yang tidak memegang ponsel.

Tidak, hanya saja… kudengar Shigemoto-kun menyukai dada besar…

“Ah, iya… Kalau dipikir-pikir, Toujoin memang menyebutkan hal seperti itu.”

Saat di taman hiburan minggu lalu, ketika Shiho dan Toujoin menembak Shigemoto, Toujoin memang mengatakan hal seperti itu, dan Shigemoto tidak menyangkalnya.

Itu adalah ilham yang cukup mengerikan untuk diungkapkan secara terbuka, dan Sei merasa sedikit kasihan pada Shigemoto saat itu.

Itulah sebabnya aku ingin bertanya pada Sei-chan tentang cara membuat dadaku sedikit lebih besar! kata Shiho, mendekatkan wajahnya ke layar dengan rasa antusias yang dapat terpancar saat dia dengan penuh semangat menanyai Sei. “Punya Tojoin-san cukup besar. Tapi punya Sei-chan lebih besar lagi.”

“Y-Yah, aku belum pernah membandingkannya, jadi aku tidak yakin soal itu…”

Jangan khawatir! Aku sudah membandingkannya dengan mataku! Punya Sei-chan jelas lebih besar.

“Kok kamu bisa yakin begitu?”

Setelah bertahun-tahun memandangi dan merasa iri pada dada orang lain… entah kenapa, aku jadi bisa mengetahuinya, lho.

“B-Begitu ya…”

Shiho memandang ke kejauhan, jadi Sei memutuskan untuk tidak menggali topik itu lebih dalam.

Selain itu, Sei-chan, punyamu jadi makin besar dari sebelumnya, kan?

“K-Kok kamu bisa tahu?”



“Ini semua berkat mataku yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Meski aku sendiri tidak terlalu senang dengan hal itu, sih.”

Mata Shiho sepertinya benar-benar memiliki kemampuan untuk mengukur ukuran payudara secara akurat, karena dia bahkan mampu melihat pertumbuhan dada Sei.

Aku ingin meminta tips bagaimana cara membesarkan payudara, Sei-chan.

“T-Tips untuk membuatnya lebih besar?”

Ya! Aku bahkan menahan rasa maluku dan bertanya pada Toujoin-san tentang hal itu. Orang itu berkata, Sejak aku masih kecil, aku telah meremas payudaraku sendiri sambil mengkhayal diremas oleh Yuuichi. Berkat itu, aku telah tumbuh begitu besar dan memiliki bentuk tubuh yang disukai Yuuichi!’”

“Sungguh percakapan yang memalukan…”

Yah, Sei benar-benar merasa terkesan bahwa Toujoin, dengan sadar, telah melakukan upaya untuk melakukan itu sejak dia masih kecil.

“Jadi, sudah sekitar seminggu ini, aku meremas punyaku sambil membayangkan Shigemoto-kun-lah yang melakukan itu, tapi…”

“Kamu tidak perlu memberitahuku hal itu kalau kamu malu, Shiho.”

“T-Tidak apa, kok! Oleh karena itu, aku ingin Sei-chan, yang bahkan lebih besar dari Toujoin-san, mengajariku cara membuat ini agar jadi lebih besar!

“Begitu, ya… Shiho, sulit mengatakannya, tapi…”

Jangan khawatir, Sei-chan. Tidak peduli betapa sulitnya, aku akan melakukannya!

Karena Shiho adalah sahabat Sei, dia ingin memberikan beberapa informasi berguna pada Shiho, yang bertekad untuk memperbesar payudaranya agar tidak kalah dari Tojoin.

Namun, kali ini…

“Aku tidak pernah benar-benar ingin membuat dadaku lebih besar… Dadaku tumbuh secara alami.”

…Eh?

Suara Shiho tiba-tiba menjadi pelan.

“Punya ibuku juga besar, jadi kurasa, itu, semacam, genetik.”

…J-Jadi, kamu tidak melakukan apapun sama sekali? Bahkan Toujoin-san pun melakukan sesuatu, lho?”

“Ya, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang khusus untuk membuat dadaku lebih besar.”

…”

“Shi-Shiho? Apakah kamu mendengarku?”

Sei memanggil Shiho, yang terlihat berhenti merespon, mengira kalau panggilannya telah terputus.

…Cih.

“Eh? Shiho? Apakah kamu barusan mengdecakkan lidahmu…?”

Hmm? Ada apa, Sei-chan?”

“Tidak, aku barusan mendengar suara decakkan lidah…”

Ahaha, mana mungkin aku melakukan itu, kan, Sei-chan?

“Y-Ya… Aku pasti salah dengar.”

Wajah Shiho tersenyum melalui telepon tapi matanya tidak, jadi Sei memutuskan untuk tidak meneruskan masalah ini lebih jauh.

“Jadi kamu tidak melakukan sesuatu yang istimewa dengan payudaramu, Sei-chan?

“Uh, ya, benar. Maaf aku tidak bisa membantu apa pun.”

Tidak apa kok. Akulah yang seharusnya meminta maaf karena meneleponmu tiba-tiba saat kamu sedang mandi.

“Tidak, akulah yang mulai menelepon duluan, jadi tidak apa-apa.”

Kalau begitu, sampai jumpa besok, Sei-chan.

“Ya, sampai jumpa besok.”

Setelah menutup telepon dengan Shiho… Sei pun merasa sedikit takut untuk bertemu dengan Shiho besok.

◇ ◇ ◇



Isekai Romcom Bahasa Indonesia [LN]

Isekai Romcom Bahasa Indonesia [LN]

Since I’ve Entered the World of Romantic Comedy Manga, I’ll Do My Best to Make the Heroine Who Doesn’t Stick With the Hero Happy, Rabu kome manga no sekai ni haitte shimattanode, shujinkō to kuttsukanai hiroin o zenryoku de shiawaseni suru
Score 9.9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2022 Native Language: Jepang
Suatu hari aku tertabrak truk dan mendapati diriku menjadi sahabat dari protagonis dalam manga komedi romantis. Oh, ini mimpi, kan? Di depanku ada heroine yang kalah yang paling kusukai, Sei Shimada--Aku puas bisa menyatakan "Aku mencintaimu" padanya, tapi  aku tidak bisa bangun dari mimpi ini.....!??

Comment

Options

not work with dark mode
Reset