[LN] Isekai Romcom Volume 1 Chapter 4.6 Bahasa Indonesia

Hari Kencan (Bagian 6)

Chapter 4: Hari Kencan

6


Hari itu, Kaori datang ke tempat kencan orang yang dicintainya, Yuuichi Shigemoto.

Meskipun dibilang tempat kencan, tapi bukan dia yang berkencan dengan Yuuichi.

Itu adalah tempat Yuuichi berkencan dengan gebetannya, Shiho Fujise.

Awalnya, dia berpikir untuk mengganggu kencan mereka, tapi, karena sepertinya Yuuichi yang mengajak kencan, jadi dia memutuskan untuk mengamati kencan mereka terlebih dahulu.

Yuuichi itu keren. Di SD dan SMP, dia selalu menjadi objek pujaan para gadis.

Namun, Yuuichi sendiri menganggap dirinya tidak populer, semua itu karena Kaori melindunginya dari gadis-gadis yang dangkal itu.

Namun kali ini situasinya berbeda. Bukan seorang gadis yang menyukai Yuuichi, tapi Yuuichi-lah yang jatuh cinta pada seorang gadis.

Itu adalah pola yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan itu sangat membingungkan Kaori.

Namun dia selalu bertindak di balik kesan bahwa “Satu-satunya wanita yang pantas untuk Yuuichi adalah aku.

Untuk menjauhkan wanita lain darinya, dia memulai rumor bahwa dia dan Yuuichi sudah dekat sejak SD, sudah berpacaran, dan bahkan bertunangan.

Dia merasa seperti hampir mati karena malu saat menyebarkan rumor tersebut, tapi dia masih melakukannya.

Namun meski begitu, Yuuichi tetap berkencan dengan Shiho Fujise.

Jika itu dirinya yang dulu, dia akan berpikir, “Aku pastinya lebih mencintai Yuuichi!” dan pergi mengganggu kencan mereka.

Tapi… dia teringat apa yang Yuuichi katakan padanya kemarin.

“Orang tuamu akan khawatir Kalau kamu pulang kemalaman!”

Kata-kata itu diucapkan oleh Yuuichi karena dia khawatir padanya.

Namun… dia tidak memiliki orang tua seperti itu.

Ibu dan ayahnya tidak ada di rumah yang besar nan sepi itu.

Ayahnya selalu sibuk dan jarang ada di rumah. Bahkan jika dia ada di rumah pun, dia akan mengunci diri di ruang kerjanya, bekerja.

Mereka jarang bertemu di rumah, mungkin paling banyak hanya sekali dalam setahun.

Dia bertanya-tanya apakah dia, orang yang belum menerima banyak cinta, benar-benar mencintai Yuuichi Shigemoto.

Cinta apa yang sebenarnya dia rasakan untuk Yuuichi ini?

Dia, yang tumbuh tanpa mengenal cinta sama sekali, tidak dapat memahami perasaan apa yang sebenarnya dia miliki terhadap Yuuichi.

Saat Yuuichi dan Shiho Fujise berkencan, mereka terlihat begitu bahagia.

Saat ini dia bertanya-tanya apakah dia bisa membuat Yuuichi memberikan senyuman yang manis dan murni seperti yang Shiho Fujise lakukan.

Karena tidak tahu jawabannya, dia tidak bisa mengganggu mereka.

Kalau terus begini, Yuuichi dan Shiho Fujise akan berakhir pacaran.

Tapi meski begitu…

“Mungkin begini tidak apa-apa…”

Dia menggumamkan itu sambil melihat ke kejauhan.

Dia telah meminta Kakek untuk mengantarnya ke sini, dan telah menemaninya sejak siang.

Bahkan sekarang, Kaori memintanya untuk pergi dan melihat ke mana tujuan mereka berdua untuk terakhir kalinya, dan dia sedang menunggu di tempat di mana dia bisa makan dengan santai.

Di luar sudah agak gelap, tapi tidak gelap gulita berkat lampu dan penerangan di sekitar area.

Dalam suasana seperti itu, Kaori sedang menunggu Kakek kembali.

Mendengar langkah kaki di belakangnya, dia pun berbalik.

“Kakek, kamu terlambat— Oh, Hisamura-kun.”

“…Selamat malam, Toujoin-san.”

Dia pikir hanya Kakek yang kembali, tapi dia tidak pernah menyangka Tsukasa Hisamura akan ada juga.

Tentu saja Kaori sudah tahu bahwa Tsukasa Hisamura dan Sei Shimada ada di taman hiburan ini.

Dia berasumsi bahwa mereka mungkin berencana untuk menghentikannya jika dia mencoba mengganggu kencan.

Namun, sekarang… alasan mereka berdua datang ke taman hiburan ini sudah tidak ada lagi.

“Selamat malam juga. Jadi, kenapa kamu datang ke tempatku bersama Kakek? Oh, jika kamu mau mencoba menghentikanku, kamu tidak perlu khawatir sekarang. Aku tidak berniat lagi mengganggu mereka.”

“…Kenapa kamu tidak mengganggu? Bukankah kamu mencintai Yuuichi?”

“…Yah, sejujurnya, aku sudah tidak yakin lagi.”

Dia memang menyukainya.

Tapi dia tidak tahu apakah dia benar-benar menyukainya.

Dia bertanya-tanya apakah dia, yang bahkan belum pernah menerima cinta dari ayahnya, benar-benar mencintai Yuuichi?

“…Kenapa kamu menyerah? Bukankah kamu sudah mencintainya sejak kecil?”

“Ya, itu benar. Kurasa aku mencintainya. Tapi entah kenapa, semakin aku memikirkannya, semakin aku bertanya-tanya bahwa mungkin saja aku tidak benar-benar menyukainya.”

“…Begitu. Jadi kamu takut.”

“…Mungkin.”

“Kenapa kamu takut? Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu sangat menyukai Yuuichi?”

“…Aku hanya tidak tertarik lagi. Yuuichi jatuh cinta pada wanita lain meskipun ada wanita sepertiku di sampingnya selama ini.”

“Jadi kamu mengakui kalau kamu kalah dari pesona gadis itu?”

“…Memangnya kamu mengerti apa soal perasaanku?”

Kaori telah melihat ke arah lain sejak tadi, tapi dia akhirnya memutuskan untuk melihat wajah Hisamura dengan benar untuk pertama kalinya.

Hisamura memasang ekspresi sangat serius dan menatap Kaori dengan tatapan yang sungguh-sungguh.

“Mana mungkin aku bisa mengerti. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda, apalagi Toujoin-san adalah putri pewaris sebuah perusahaan besar. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang seperti itu.”

“…Ya, kamu benar.”

“Tapi kamu juga tidak tahu bagaimana perasaanku, kan?”

“…Apa yang kamu coba katakan?”

“Maksudku, kamu tidak akan dapat memahami perasaan seseorang kecuali mereka mengungkapkannya dengan kata-kata. Itulah sebabnya aku memberi tahu Sei-chan bahwa aku mencintainya, dan memberi tahu adikku, Rie, bahwa dia imut.”

“…Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”

“…Haah, aku tidak bermaksud untuk mengatakan ini, tapi…”

Hisamura mengalihkan pandangannya sejenak, menunduk, dan menghela nafas.

“Itulah sebabnya kamu juga tidak mengerti perasaan ayahmu, kan?”

“Hah?! Bagaimana kau bisa…?”

Dia belum pernah memberitahu siapa pun tentang hubungannya dengan ayahnya. Bahkan pada Yuuichi sekali pun.

“Itu tidak penting sekarang. Yang penting sekarang adalah, Toujoin-san, kamu juga tidak mengerti perasaan ayahmu.”

“…Ya. aku tidak tahu. Tapi bahkan tanpa dingkapkan dengan kata-kata pun, aku bisa tahu dari sikapnya. Ayahku… dia tidak menyukai atau pun membenciku.”

“Itulah sebabnya kamu takut, kan? Karena kamu tidak pernah mendapatkan cinta, kamu tidak yakin apakah cinta yang kamu rasakan pada Yuuichi itu benar-benar cinta.”

Uuu… Apa-apaan kau ini…!?”

“Sudahlah. Mari kita pastikan sendiri seberapa besar ayahmu mencintaimu.”

“Hah…?”

Memastikan cinta ayahku?

Aku sudah memiliki jawaban atas pertanyaan itu selama lebih dari satu dekade sekarang.

“Hubungilah ayahmu lewat telepon dan tanyakan apakah dia mencintaimu atau tidak.”

“…Apa-apaan yang kau katakan itu?”

“Lakukan saja. Dengan begitu kau akan tahu apakah kau benar-benar mendapatkan cukup cinta darinya.”

“…Haah, Bahkan jika aku menelepon sekarang, ayahku tidak akan pernah mengangkat. Ini bukan masalah cinta atau apalah, dia hanya tidak bisa mengangkatnya. Ayahku adalah orang yang sangat sibuk, dan pekerjaannya mengharuskan dia untuk bekerja setiap menit, atau bahkan detik, sejak dia bangun di pagi hari sampai dia tidur di malam hari.”

Toujoin Group adalah salah satu perusahan terbesar di dunia.

Ayah Kaori, direktur perusahaan, sangat sibuk dan tidak akan pernah bisa menerima panggilan telepon yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Hanya beberapa menit panggilan telepon yang tidak terjadwal dapat menunda dan merusak kesepakatan bisnis senilai ratusan juta yen.

“Coba saja. Jika dia tidak mengangkatnya, kamu bisa menggunakan alasan kalau dia sibuk bekerja. Itu alasan yang sempurna untuk Toujoin-san yang menggunakan alasan bahwa selera Yuuichi tidak bagus hanya karena dia kalah dari Fujise dalam hal daya tarik.”

Uuu… Baiklah. Aku akan mengikuti permainanmu.”

Jika dia menolak setelah dikatakan begitu, itu akan mencoreng nama Kaori Toujoin.

Dia mengeluarkan ponselnya dan mengetuk entri berlabel “Ayah” di daftar kontaknya yang sedikit.

Satu ketukan lagi, dan panggilan akan tersambung.

Tapi, apakah ini benar-benar tidak apa-apa?

Jika dia berada di tengah pertemuan bisnis yang penting, bahkan suara sekecil apa pun bisa sangat mengganggunya.

Selain itu, tidak mungkin dia akan mengangkat panggilan telepon yang tiba-tiba.

“Ada apa? Apakah pada akhirnya Kaori Toujoin memang orang yang pengecut?”

Uuh… Entah ini diangkat atau tidak, aku akan membuatmu menyesali ini, jadi persiapkan dirimu.”

Saat dia mengatakan ini, Kaori mengetuk layar lagi.

Nada elektronik ponsel berdering dan bergema.

Bip~ Bip~ Terhubung~

“Eh…?”

Kaori tanpa sadar menggumamkan kata-kata itu, mengira dia pasti salah dengar.

“Halo. Ada apa, Kaori?”

Dia mendengar suara ayahnya bergema dari sisi lain telepon.

Dengan tergesa-gesa, dia menempelkan ponsel ke telinganya dan menjawab, “A-Ayah, maaf karena meneleponmu tiba-tiba.”

“Ya, Ayah terkejut.”

“Apakah tidak masalah Ayah mengangkat teleponku di tengah kesibukan Ayah?”

“Hm? Ayah mana yang tidak akan mengangkat telepon dari putrinya?”

“……”

Kata-kata itu membuatnya terdiam.

Jadwalnya diatur dalam hitungan detik, dan bahkan komunikasi beberapa detik sekarang ini akan menunda jadwalnya secara signifikan.

Namun… dia tidak menyangka ayahnya akan begitu peduli padanya.

“Jadi, apakah ada yang bisa Ayah bantu?”

“Oh, itu…”

Benar, alasan dia menelepon… Dia melirik sekilas ke arah Hisamura.

Dia tidak mengira teleponnya akan diangkat, dan sekarang dia harus menanyakan pertanyaan memalukan.

Tapi, dia tidak ingin berlama-lama menyita waktu ayahnya, jadi dia mengumpulkan keberaniannya dan bertanya.

“A-Ayah, aku… i-ingin bertanya apakah ayah… um, mencintaiaku…?”

“Apakah kamu menelepon untuk ini?”

“……”

Dia tak bisa berkata-kata tapi kali ini untuk alasan yang berbeda dari sebelumnya.

Sudah kuduga Ayah tidak peduli padaku…

“Tentu saja Ayah mencintaimu.”

“…Eh?”

“Apakah tidak kedengaran? Sinyalnya pasti buruk. Hei, cepat ubah sinyal gedung ini!”

Dia mendengar ayahnya memerintah seseorang di dekatnya.

“B-Bukan, aku bisa mendengar suara Ayah dengan jelas…”

“Benarkah? Baguslah.”

“J-Jadi… Ayah benar-benar mencintaiku…?”

“Bukankah wajar jika seorang ayah mencintai putrinya?”

“――!”

Dia tidak bisa menahan air matanya mendengar kata-kata itu.

Dia selama ini berpikir bahwa dia tidak pernah dicintai.

Lagi pula, tidak pernah ada tanda-tanda demikian, dan ayahnya pun tidak pernah mengatakannya.

Apakah ini benar-benar ayahnya?

Bukan palsu, tapi yang asli… Jadi, apakah itu artinya cintanya itu nyata?

“A-Ayah…”

“Hm? Ada apa, Kaori? Kenapa kamu menangis?”

“Eh? Ah? Maaf.”

“A-Apakah Ayah melakukan kesalahan? Ataukah kamu mendapat semacam masalah? Jangan khawatir, Ayah akan ke sana sekarang.”

“Eh?”

“Hei, batalkan semua rencana untuk hari ini. Makan malam dengan Presiden Amerika? Aku tidak peduli, tunda saja.”

“T-Tunggu, tolong tunggu! Ayah! Aku baik-baik saja!”

“Benarkah? Kamu tidak memaksakan diri, kan?”

“Ya… Aku baik-baik saja.”

Aku tidak pernah membayangkan bahwa ayah akan begitu peduli padaku.

Aku hanya mendapat kesan bahwa ayah selalu acuh tak acuh terhadapku.

Jadi semuanya… hanya salah paham?

“…Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, apa yang kamu mau untuk makan malam Sabtu depan?”

“Ah…”

Dia lupa soal itu sampai ayahnya menyebutkannya. Tidak, dia sengaja menghindarinya tapi Sabtu depan adalah makan malam sekali dalam sebulan bersama ayahnya.

Setiap kali mereka alan makan malam di restoran mewah atau semacamnya, kakek akan selalu bertanya, “Sepertinya Tuan ingin bertanya tentang apa yang ingin Anda makan kali ini.”

Dan setiap kali itu juga dia akan selalu menjawabnya dengan “Terserah.”

Tapi untuk pertama kalinya, ayahnya bertanya langsung padanya.

“Um… Apakah apa pun tak masalah?”

“Ya, apa pun tak masalah. Tidak ada yang tidak bisa Ayah persiapkan untukmu.”

Sebagai presiden Toujoin Group yang terkemuka, mungkin tidak ada hal di dunia ini yang tidak dapat dia persiapkan.

Namun, Kaori tidak mencari sesuatu yang istimewa.

Sebagai seorang anak, dia hanya ingin—

“Um… A-Aku ingin mencoba… masakan buatan Ayah.”

“Hmm… Masakan… buatanku?”

“Y-Ya”

“Apakah kamu yakin? Kita bisa pergi ke restoran mewah mana pun jika kamu mau?”

“Tidak… Aku ingin makan masakan buatan Ayah.”

Ketika dia masih kecil… dia bahkan tidak dapat mengingat berapa umurnya saat itu. Ada suatu masa ketika perusahaan belum sebesar sekarang dan rumahnya juga tidak terlalu besar. Dia ingat pernah memakan masakan yang dibuat ayahnya saat itu. Dia bahkan tidak bisa mengingat makanan apa saat itu… tapi dia ingat bahwa itu sangat enak.

Tidak peduli seberapa enak makanan yang dia makan di restoran mewah, dia masih belum lupa bagaimana rasa makanannya saat itu.

Dia ingin mencicipi makanan itu lagi.

Namun keadaan sekarang jauh berbeda dibandingkan dulu.

Sekarang, seperti yang disebutkan sebelumnya, dia memiliki janji temu setiap detik.

Dengan jadwal yang begitu padat, tidak mungkin ayahnya punya waktu untuk memasak hanya untuknya…

“Begitu… Baiklah, Ayah sudah lama tidak memasak, jadi Ayah tidak yakin apakah hasilnya akan enak, tapi Ayah akan membuatnya.”

“Eh? Apakah itu benar-benar tidak apa-apa?”

“Tentu saja. Tapi, yah… Ayah juga ingin meminta sesuatu padamu jika kamu tidak keberatan.”

“Y-Ya, apa itu?”

Sejauh yang dia ingat, Ayahnya jarang memintanya melakukan sesuatu untuknya.

Dia bertanya-tanya hal apa yang ingin ayahnya minta dia lakukan…

“Ayah juga ingin mencoba masakan yang kamu buat, Kaori… Apakah tak masalah?”

“Ah… T-Tentu saja, aku ingin Ayah mencobanya!”

“…Begitu ya. Terima kasih. Ayah menantikannya.”

“Y-Ya, aku juga…”

“Maaf, sudah waktunya Ayah harus menutup telepon, sekretaris Ayah terus menatap seperti dia ingin membunuh.”

“Ah, y-ya, aku mengerti. Maaf karena sudah menelpon Ayah tiba-tiba…”

“Tidak apa-apa.”

Sebelum menutup telepon… Ada satu hal terakhir yang ingin Kaori katakan.

“U-Um. Ayah…”

“Ya?”

“…A-Aku juga mencintai Ayah.”

“Huh… Ya, terima kasih.”

“Y-Ya, sampai jumpa saat makan malam.”

“Ya, nantikanlah.”

Dan panggilan pun berakhir.

Setelah itu, dia tertegun beberapa saat.

Dia bertanya-tanya apakah orang yang baru saja dia ajak bicara itu benar-benar ayahnya.

Dia telah salah paham dan berpikir bahwa ayahnya tidak peduli terhadapnya selama ini.

Tapi kalau dilihat dari sikapnya… sepertinya memang begitu.

Bahkan selama percakapan mereka, di sana, mungkin tidak ada perubahan apa pun pada ekspresi atau nada bicaranya.

Namun… Ayahnya sangat mencintainya.

“Jadi, bagaimana?”

“……”

Saat dia masih dalam keadaan linglung, Hisamura tiba-tiba berbicara padanya.

Ya, dia menelepon atas desakan pria ini.

“…Apakah aku… benar-benar dicintai oleh Ayah?”

“Apakah kamu tidak mengetahuinya dari telepon barusan?”

“…Ya, benar. Ayah… dia mencintaiku!”

Saat dia mengatakan itu, Kaori menitikkan air mata sekali lagi.

Dia menyadari betapa bodohnya dia karena menderita oleh hal itu begitu lamanya.

Yang perlu dia lakukan hanyalah bertanya pada ayahnya sekali saja, dan dia akan tahu betapa ayahnya mencintainya.

“Yah, dari apa yang aku dengar, tampaknya ayahmu sama buruknya denganmu dalam mengekspresikan perasaan. Kaori Toujoin-san, kamu menyukai Yuuichi selama ini tapi kamu tidak bisa menyampaikan itu padanya, kan?”

“Uh… I-Itu karena Yuuichi terlalu tidak peka.”

“Hahaha, yah, itu ada benarnya. Tapi bukankah kamu sama saja, Toujoin-san? Orang yang dicintai selama enam belas tahun tapi secara keliru mengira kalau dia tidak dicintai selama ini?”

Ukh… Kamu benar-benar memiliki kepribadian yang sangat baik.”

“Aku akan menganggap itu sebagai pujian.”

Setelah mengatakan itu, mereka berdua pun tertawa.

“Jadi, apa yang akan kamu lakukan? Yuuichi dan Fujise sedang menuju ke tempat di mana sepasang kekasih akan bersama selamanya.”

“Bukankah sudah jelas? Aku akan menghentikan mereka… Tidak, bukan itu. Lihatlah. Akan kutunjukkan padamu bahwa akulah satu-satunya orang yang pantas menjadi pacar Yuuichi Shigemoto.”

“Tapi saat ini, Fujise jelas memimpin, lho?”

“Aku tidak akan kalah dari wanita pendatang baru itu. Aku akan menyalipnya dalam sekejap.”

“Haha, itu baru namanya Kaori Toujoin.”

Kaori berdiri dan berlari menuju Tsukasa Hisamura.

Tempat pengakuan cinta berada tepat di belakang Hisamura.

Ketika dia melewati Hisamura…

“Terima kasih. Aku akan membayar hutang ini suatu hari nanti.”

Dia mengatakan itu dan terus berlari.

“Terima kasih. Aku menantikan bagaimana putri keluarga Toujoin akan membayar utangnya.”

Dia mendengar kata-kata itu dari belakang setelah dia melewati Hisamura.

Ketika dia berlari sedikit lebih jauh, dia melihat seorang wanita sedang berdiri.

Kaori tersenyum tipis saat melihatnya dan mengucapkan beberapa patah kata saat dia melewati wanita itu.

“Pacarmu pria yang baik.”

“Apa!?”

Meskipun wanita itu langsung bereaksi, Kaori terus berlari tanpa henti.

“D-Dia belum jadi pacarku!”

Kaori mendengar kata-kata itu dari belakangnya, membuat senyumnya semakin melebar.

Tetap saja, berapa banyak lagi waktu yang tersisa?

Dengan mengingat hal itu, Kaori berlari sekuat tenaga menuju Yuuichi dan Fujise.

Sesampainya di tempat pengakuan cinta, Kaori melihat sekeliling.

Karena hanya ada sedikit orang di sana, dia dengan cepat menemukan Yuuichi dan Fujise.

Mereka berdua saling berhadapan, bertukar pandang dengan gugup.

“Fu-Fujise…! Ada yang ingin kukatakan padamu… Itu…!”

“Shigemoto-kun…”

Saat mendengar suara itu, Kaori berteriak.

“Yuuichi!”

“Eh… Ukh!? Ka-Kaori!?”

Karena dia berteriak, Yuuichi segera menyadarinya dan menoleh ke arahnya.

Yuuichi memasang ekspresi yang mengatakan “Kenapa kamu ada di sini?” dan Fujise juga terlihat sangat terkejut.

“K-Kenapa kamu ada di sini…!?”

Haa~ Haa~ Tunggu sebentar. Biarkan aku, menarik napas…”

Kaori mendekati Yuuichi, mengatur napas selama beberapa detik sebelum mengangkat wajahnya dan berbicara.

“Yuuichi Shigemoto! Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu!”

“A-Apa itu? Tunggu, yang lebih penting, kenapa kamu ada di sini…?”

“Aku, selama ini, MENCINTAIMU!”

“…Apa?”

“…Eh?”

Pengakuan Kaori yang tiba-tiba membuat Yuuichi dan Fujise terbelalak dan tercengang.

“Aku sudah mencintaimu sejak SD! Aku selalu menyukaimu selama ini!”

“Eh, apa?”

“Aku menyukai Yuuichi karena dia memperlakukanku sebagai seorang gadis biasa di saat semua orang menjauhiku karena berasal dari keluarga yang kaya raya! Kamu adalah cinta pertamaku! Dan perasaan itu masih kuat hingga saat ini!”

“Tung… Ka-Kaori… Tunggu dulu…”

“Ada kakak kelas di SD yang mendekatiku untuk mengatakan kalau wajah Yuuichi semakin dan semakin keren. Aku menjauhkan mereka semua darimu karena aku ingin memonopolimu, Yuuichi! Mereka hanya mendekati Yuuichi karena wajahmu! Yah, wajah Yuuichi memang sangat tampan dan manis—maksudku, aku mungkin tidak akan pernah bisa bangun lagi jika aku memelukmu seperti bantal!”

“Tunggu! Kaori, pikiranku tidak bisa mengikuti semua ini…!”

Kaori terus berteriak meskipun wajahnya memerah, dan wajah Yuuichi juga semerah atau bahkan lebih merah darinya.

Bahkan Fujise pun, yang mendengarkan tepat di sebelah mereka, juga ikut memerah.

“Aku selalu menyukaimu selama ini! Tidak, aku tidak hanya menyukaimu, aku mencintaimu! Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam! Aku menginginkan semua yang ada di diri Yuuichi! Dan aku ingin memberikanmu semua yang ada di diriku! Baik jiwa dan ragaku! Semuanya! Aku ingin kamu merobek-robek tubuh ini!”

“T-Tunggu sebentar, Kaori! Kamu mengatakan sesuatu yang cukup gawat!”

Sepertinya fetish Kaori yang tidak biasa mulai sedikit terlihat, tapi Kaori tetap terus berbicara.

“Aku tidak ingin kamu dicuri dariku! Aku tidak bisa membayangkan menikahi orang lain selain kamu! Jadi Yuuichi, menikahlah denganku!”

Kaori tersenyum lebar saat dia menyatakan itu.

Wajah mereka bertiga yang hadir di sana memerah, meski dengan tingkat kemerahan yang berbeda-beda.

“Yuuichi, pilihlah aku. Aku ingin bahagia bersamamu. Tetaplah di sisiku seumur hidupku.”

“Kaori…!”

Yuuichi, untuk pertama kalinya, mengetahui bahwa teman masa kecilnya, Kaori, menyimpan perasaan seperti itu padanya selama ini.

Meskipun hal itu mungkin terlihat sangat jelas bagi orang lain, tapi bagi Yuuichi, yang sangat tidak peka, dia tidak pernah menyadarinya sama sekali.

Namun, ketika hal itu dinyatakan secara blak-blakan, bahkan orang paling idiot pun pasti memahaminya. Bahwa Kaori benar-benar menyukainya. Bahwa semua tindakannya sampai saat ini adalah bentuk kasih sayangnya, upaya untuk memonopoli dirinya.

Mereka adalah teman masa kecil yang sudah dekat untuk waktu yang lama, dan Yuuichi selalu berpikir kalau mereka akan tetap sebagai teman sepanjang hidup mereka.

Tapi pria mana yang tidak akan merasakan apa-apa setelah mendengar kalau ada seseorang yang memiliki perasaan yang begitu tulus dan penuh gairah terhadapnya?

“T-Tunggu sebentar…!”

Yang menyela mereka adalah Shiho Fujise, yang telah berkencan dengan Yuuichi sepanjang hari ini.

‘A-aku juga… menyukai Shigemoto-kun!”

“Eh… EEEH?!”

Yuuichi tidak tahu soal perasaan Fujise karena dia belum mengungkapkan perasaan padanya.

Yuuichi tidak menyangka kalau Fujise, orang yang dia sukai dan akan dia tembak hari ini, akan menembaknya juga.

“Kita baru bertemu di SMA, jadi aku memang belum mengenalmu selama Toujoin-san. Tapi… KAMU JUGA CINTA PERTAMAKU! AKU JUGA MENCINTAI SHIGEMOTO-KUN!”

“Eh? Tung—”

“Kita berada di kelas yang sama saat kelas satu. Shigemoto-kun, kamu mungkin tidak ingat ini, tapi kamu pernah menyelamatkanku ketika aku digoda oleh orang asing, kan?”

“Eh? Kapan…?”

“Saat SMP. Aku merasa sangat takut ketika ada orang dewasa yang mendekatiku, tapi Shigemoto-kun, kamu menolongku.”

“Aku merasa situasi itu memang pernah terjadi entah kapan…”

“Aku menyesal karena tidak bisa menanyakan namamu saat itu, tapi aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi di SMA!”

Tampaknya Yuuichi tanpa sadar telah membantu Shiho Fujise saat SMP, tanpa sadar mengibarkan bendera cinta.

“Saat aku mulai bicara denganmu di SMA, aku mulai semakin menyukaimu! Ini adalah pertama kalinya aku berpikir ‘Aku ingin pacaran dengan seseorang seperti dirinya.’”

“F-Fujise…”

“Aku menyukai kebaikanmu, Shigemoto-kun! Aku suka betapa kekanak-kanakannya dirimu! Aku suka betapa takutnya Shigemoto-kun di rumah hantu hari ini! Aku sangat ingin menyiksa Shigemoto-kun!”

“Tunggu sebentar, Fujise, bukankah kamu juga mengatakan sesuatu yang cukup gawat?”

Sama seperti Kaori, fetish Shiho juga sedikit terungkap.

“Itulah sebabnya… um, tolong pacaranlah denganku!” ungkap Fujise, wajahnya menjadi merah padam.

“Yuuichi, menikahlah denganku! Aku jelas lebih pantas untukmu daripada Fujise-san!”

“A-Aku juga tidak akan kalah dari Toujoin-san! Shigemoto-kun, pilihlah aku!”

“T-Tunggu sebentar…!”

Pria mana yang tidak akan bingung ketika ditembak tiba-tiba oleh dua orang gadis? Salah satunya gadis yang dia kenal sejak kecil dan sangat dekat dengannya, dan satunya lagi gadis yang membuatnya jatuh cinta setelah masuk SMA.

“Aku memiliki dada yang lebih besar dari Fujise-san! Aku juga memiliki pinggang yang elok dan kulitku terasa enak saat disentuh karena aku pergi ke klinik kecantikan terbaik!”

“K-Kaori, apa sih yang kamu bicarakan…?”

“D-Dada saya cup C! Saya juga lebih ramping daripada Toujoin-san dan menurut saya, saya jauh lebih enak untuk dipeluk… M-Mungkin!”

“Fu-Fujise juga, tolong tenanglah. Kamu jadi malu dan menggunakan bahasa yang formal.”

“Ya ampun, Fujise-san, kau tidak mengerti. Yuuichi menyukai tipe gitar spanyol sepertiku. Itu terbukti dari riwayat nakal ponselnya yang penuh dengan hal-hal semacam itu!”

“Tunggu dulu?! B-Bagaimana kau bisa tahu soal… B-Bukan begitu, Fujise, jangan salah paham…”

Yuuichi, yang hampir mengakuinya, dengan putus asa mencoba membuat alasan atas kesalahpahaman Fujise, yang sebenarnya itu setidaknya bukanlah kesalahpahaman.

“K-Kau juga tidak mengerti, Toujoin-san. Berdasarkan apa yang kuketahui dari kencan hari ini, Shigemoto-kun adalah tipe pria yang suka disiksa. Jadi, aku yang sadis dan Yuuichi yang masokis adalah pasangan yang sempurna. Aku yakin Toujoin-san, yang juga suka disiksa, pasti tidak akan bisa memuaskan kebutuhannya, kan?”

“Tunggu dulu, Fujise!? Apa-apaan yang kau katakan itu?!”

Sekali lagi, fetish Yuuichi terungkap dari sudut pandang yang vulgar.

Ukh… Aku tidak bisa menyangkalnya setelah melihat riwayat browser Yuuichi!”

“Oy, demi Tuhan, tolong sangkal itu. Jika kamu mengatakannya seperti itu, aku akan benar-benar dianggap sebagai masokis.”

Sementara Fujise dan Kaori dengan sukarela mengungkapkan diri mereka sendiri, Yuuichi berada dalam posisi yang menyedihkan karena mereka secara blak-blakan mengungkapkan hal-hal tentang dirinya.

 “I-Itulah sebabnya akulah yang pantas menjadi pacar Shigemoto-kun!”

“Tidak, yang pantas adalah aku! Kaori Toujoin adalah orang yang pantas menjadi pacar dan istri Yuuichi Shigemoto! Kau adalah tipe gadis yang akan putus dengannya setelah tiga bulan pacaran! Jika begitu, akan lebih baik jika aku yang pacaran dengannya sejak awal!”

“I-Itu tidak benar! Jika aku pacaran dengan Yuuichi, aku akan pacaran dengannya selama bertahun-tahun, hingga kami akhirnya menikah juga!”

“Tunggu sebentar, kalian berdua. Aku belum cukup dewasa untuk membuat komitmen seperti itu.”

Fujise dan Kaori berdebat sambil bertatap muka, dan Yuuichi mencoba menghentikan mereka di tengah-tengah.

Lalu, baik Fujise dan Kaori secara bersamaan menoleh ke arah Yuuichi.

“Yuuichi! Aku mencintaimu! Tolong menikahlah denganku!”

“Shigemoto-kun! A-Aku menyukaimu, tolong pacaranlah denganku!”

“Eh… Um….”

Pria mana yang tidak akan senang saat ditembak seperti itu oleh dua gadis cantik?

Namun, tidak akan ada juga pria yang tidak bingung dalam situasi seperti itu.

Salah satunya adalah seorang teman masa kecilnya dan sangat dekat dengannya, seorang gadis yang mencintainya dan mencoba memonopolinya, seorang gadis yang sedikit terlalu penyayang, tapi juga sangat manis.

Gadis lainnya adalah gadis yang membuatnya jatuh cinta ketika dia masuk SMA. Dia sangat enak diajak bicara dan sangat menenangkan, bisa dibilang dia adalah tipe gadis ideal Yuuichi.

Kedua gadis ini sangat penting bagi Yuuichi, dan dia tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka, tapi dia juga tidak bisa memacari kedua-duanya.

“Kamu pilih yang mana, Yuuichi!?”

“S-Shigemoto-kun!”

UMMMM~”

Dia berpikir begitu keras sehingga pada tingkat ini, uap bisa saja keluar dari kepalanya. Tidak, uap benar-benar keluar dari kepalanya sekarang.

“……”

Tiba-tiba, otaknya, yang tidak dapat menangani informasi yang berlebihan, mengalami kerusakan dan korsleting.

Hingga akhirnya Yuuichi pun pingsan dan ambruk.

“Eh? YUUICHI!?”

“S-SHIGEMOTO-KUN? APA KAMU BAIK-BAIK SAJA?!”

Mereka berdua menyangga Yuichi yang terjatuh tapi sepertinya mereka tidak akan bisa mendengar jawaban Yuuichi di tempat ini.

◇ ◇ ◇




Isekai Romcom Bahasa Indonesia [LN]

Isekai Romcom Bahasa Indonesia [LN]

Since I’ve Entered the World of Romantic Comedy Manga, I’ll Do My Best to Make the Heroine Who Doesn’t Stick With the Hero Happy, Rabu kome manga no sekai ni haitte shimattanode, shujinkō to kuttsukanai hiroin o zenryoku de shiawaseni suru
Score 9.9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2022 Native Language: Jepang
Suatu hari aku tertabrak truk dan mendapati diriku menjadi sahabat dari protagonis dalam manga komedi romantis. Oh, ini mimpi, kan? Di depanku ada heroine yang kalah yang paling kusukai, Sei Shimada--Aku puas bisa menyatakan "Aku mencintaimu" padanya, tapi  aku tidak bisa bangun dari mimpi ini.....!??

Comment

Options

not work with dark mode
Reset