[LN] Isekai Romcom Volume 1 Chapter 4.1 Bahasa Indonesia

Hari Kencan (Bagian 1)

Chapter 4: Hari Kencan

1


Ups, hari Minggu akhirnya tiba.

Tidak, jika aku bilang ‘ups, kesannya aku tidak benar-benar ingin kalau hari Minggu tiba.

Aku sebenarnya sangat senang karena kencanku dengan Sei-chan akhirnya tiba.

Aku dan Yuuichi tidur bersama di kamarku dan bangun dengan baik-baik saja.

Tentu saja, aku tidur di ranjang sementara Yuichi tidur di lantai pakai kasur… Meski begitu, aku sebenarnya tidak bisa tidur sama sekali. Sementara pria di lantai itu tidur sangat nyenyak.

Tidak, menurutku hal yang normal untuk tidak dapat tidur dalam situasi ini.

Maksudku, mana mungkin aku bisa tidur saat aku akan berkencan dengan Sei-chan, karakter aku cintai sejak aku membaca manga-nya?

Di sisi lain, jika seseorang dapat tidur nyenyak dalam situasi seperti ini, orang tersebut mungkin tidak terlalu menyukai karakter itu.

Atau mungkin dia seseorang yang berkulit tebal seperti Yuuichi.

Kalau dipikir-pikir, orang ini akan menembak Fujise hari ini, kan?

Lalu, kenapa dia bisa tidur nyenyak di malam sebelum hari itu?

Entah orang ini berkulit tebal, atau urat malunya sudah putus.

Fuaaah… Aku tidur nyenyak hari ini. Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik hari ini!”

“Kau sangat hebat tidur, ya.”

“Hm? Oh, kau juga bangun pagi.”

“Aku belum memberitahumu ini, tapi aku dan Shimada memutuskan untuk bertemu lebih awal dari kalian.”

“Oh, benarkah! Terima kasih banyak telah melakukan itu untuk kami!”

“…Ah- yah, itu bukan apa-apa.”

Aku hendak mengatakan keluhanku pada Yuichi, yang bisa tidur nyenyak delapan jam sementara aku hampir tidak bisa tidur. Tapi aku kehilangan minat untuk mengatakannya ketika dia menunjukkan senyum cerahnya padaku.

Sungguh, tidak adil bagi seseorang untuk bisa memiliki wajah yang setampan itu.

Aku bangun lebih awal dari Yuuichi, dan sudah bersiap untuk berangkat.

“Hei, tidak ada yang aneh dengan pakaianku, kan?”

“Hm? Menurutku tidak. Kau terlihat seperti biasanya.”

“Biasa saja tidak cukup! Aku akan berada di samping Sei-cha-… maksudku, Shimada, tau. Jika aku terlihat biasa saja dibandingkan dengannya… Yah, aku pasti akan terlihat begitu, tapi setidaknya bisakah perbandingannya tidak kelihatan terlalu jauh?”

“Ada apa sih? Jangan khawatir, Tsukasa yang biasanya juga keren.”

“Itulah kenapa aku tidak boleh biasa saja!”

“Kau merepotkan sekali!”

Aku sudah menjadi Tsukasa Hisamura di dunia ini, tapi wajah dan tubuhku sama seperti di duniaku sebelumnya.

Aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat, tapi dibandingkan dengan berada di dunia ini, aku mau tidak mau jadi khawatir.

Wajahku itu… biasa saja. Aku tidak menganggap diriku jelek.

Dalam hal penampilan, menurutku aku kisaran rata-rata, atau mungkin sedikit di atas rata-rata.

Hanya saja karakter di dunia manga ini sudah kelewatan good looking.

Dimulai dari sang protagonis, Yuuichi Shigemoto, dan para heroine, Kaori Toujoin, Shiho Fujise, dan Sei-chan.

Mereka semua memiliki wajah yang sangat menarik hingga cukup mengherankan kenapa mereka belum menjadi idol ataupun model.

Sei-chan, khususnya, adalah bidadari di mataku.

Namun, aku tidak cocok sebagai idol ataupun model.

Yah, aku tidak bisa mengubah wajahku, jadi setidaknya aku ingin memastikan aku terlihat cukup baik untuk berdiri di samping Sei-chan.

“Ngomong-ngomong, bukankah masih terlalu cepat bagimu untuk bersiap-siap? Memangnya jam berapa kalian sepakat untuk bertemu?”

Yuuichi menanyakan itu padaku saat dia mengganti piyamanya ke pakaian biasa.

Sial, orang ini… Pakaiannya sangat sederhana, tapi karena wajah dan bentuk tubuhnya luar biasa, itu terlihat sangat bagus untuknya!

“Kalian janjian jam sebelas, jadi kami sepekat untuk ketemuan jam sepuluh tiga puluh.”

“Tapi sekarang masih jam sembilan, lho?”

“Aku akan bertemu Shimada, ingat? Jadi, wajar saja untuk datang satu jam lebih awal darinya, kan?”

“Dari mana wajarnya?”

Mana mungkin aku membuat Sei-chan menungguku meski hanya sedetik.

Sei-chan secara mengejutkannya kikuk, jadi ada kemungkinan dia akan berangkat dan tiba di tempat pertemuan lebih awal.

Aku benar-benar harus berada di sana sebelum dia.

Ditambah lagi, jika Sei-chan menunggu sendirian, dia mungkin akan menghadapi skenario digoda buaya darat.

Jika aku melihat hal itu terjadi, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada pria yang menggodanya.

“Kamu juga tidak bisa membuat Fujise menunggu, kan?”

“Yah, sebagai seorang pria, sudah sewajarnya untuk tiba lebih dulu… tapi, paling cepat hanya 15 menit lebih awal, kan?”

“Itu tidak bagus. Sepertinya kau tidak akan pernah bisa seperti aku.”

“Aku tidak ingin jadi sepertimu.”

Karena aku sudah bertekad untuk membuat Sei-chan bahagia, jadi melakukan hal sederhana seperti ini bukanlah masalah sama sekali.

Yah, sebenarnya ini sama sekali bukan masalah.

Malahan, menunggu Sei-chan selama satu jam hampir merupakan sebuah hadiah.

“Jam berapa kamu berencana berangkat, Yuuichi?”

“Aku berencana untuk sampai di sana lima belas menit sebelum jam sebelas, tapi kurasa aku harus menirumu dan tiba di sana tiga puluh menit lebih awal?”

Heh… Menurutmu itu sudah cukup untuk mengalahkanku?”

“Tidak masalah, karena aku tidak mencoba mengalahkanmu.”

Hmph, sungguh lemah.

“Bolehkah aku tetap di rumahmu ketika kamu sudah pergi lebih dulu, Tsukasa?”

“Yah, seharusnya tidak apa-apa, lagian kamu adalah Yuuichi. Tapi, jika kamu menyentuh adikku yang imut, Rie, aku akan membunuhmu tanpa ragu-ragu.”

“Kau membuatku takut! Jangan memelototiku seperti itu!”

Itu untuk melindungi adikku yang imut dan manis, jadi tentu saja mataku akan sedikit melotot.

“Kau membuatku takut akhir-akhir ini, tau?”

“Ini normal. Baiklah, aku akan memberi tahu Rie tentangmu, jadi kamu bisa berdiam di sini sampai kamu pergi.”

“Oh, okelah. Makasih.”

Tapi sebenarnya, tidak ada gunanya lagi dia pergi ke lokasi kencannya dari rumahku.

Lagipula Toujoin-san sudah tahu kalau Yuuichi akan berangkat dari sini.

Yah, tapi, kalau Yuuichi sekarang berangkat dari rumahnya sendiri sepertinya akan merepotkan, jadi kurasa tidak apalah.

“Nah, aku berangkat sekarang.”

“Seriusan? Kau benar-benar akan pergi ke tempat janjian satu jam lebih awal?”

“Tentu saja. Sementara itu, kamu bisa bersantai sebentar di kamarku.”

“Ya, aku akan melakukannya.”

Meninggalkan Yuuichi di kamar, aku pun menuju ke bawah.

Karena tata letak rumahku, aku harus melewati ruang tamu untuk sampai ke pintu depan. Jadi aku membuka pintu ruang tamu dan menemukan Rie duduk di sana, sedang sarapan.

“Rie, selamat pagi.”

“Hmm… Selamat pagi. Eh, apakah kamu akan keluar, Onii-chan? Bagaimana dengan sarapannya?”

Kursi yang berseberangan dengan tempat duduk Rie, tempatku selalu duduk, sudah disiapkan sarapan.

Ups, aku lupa memberitahu Rie bahwa aku tidak perlu sarapan hari ini. Salahku.

“Maaf, aku sedang buru-buru, jadi aku tidak perlu sarapan. Aku juga tidak perlu makan siang. Bisakah kamu memberikan sarapan itu pada Yuuichi saja di lantai atas?”

“Eh? Apakah kamu dan Yuuichi-san tidak pergi bersama?”

Kata “Yuuichi-san” yang keluar dari mulut Rie, terdengar sangat baru dan asing bagiku.

Dalam cerita aslinya, Rie biasanya memanggil Yuuichi dengan sebutan “Shigemoto-senpai” atau hanya “Senpai.”

Hmm, terasa seperti jarak mereka semakin dekat, tapi juga semakin jauh.

Menurutku banyak penggemar berpikir bahwa dia imut saat memanggilnya “senpai” dalam cerita aslinya.

Yah, itu tidak terlalu penting sekarang.

“Aku dan dia akan ketemuan dengan orang yang berbeda. Jadi, aku akan pergi lebih dulu darinya. Dia mungkin akan meninggalkan rumah sekitar satu jam lagi, tapi kurasa dia tidak akan meninggalkan kamarku, jadi tidak apa-apa, kan?”

“U-Uh, ya, oke… tapi Onii-chan, kamu mau kemana buru-buru begitu?”

“Aku hanya akan berada di tempat janjian sedikit lebih awal agar tidak membuat orangnya menunggu.”

Yep. sedikit lebih awal. Hanya sekitar satu jam sebelum waktu janjian.

“Eh… M-Mungkinkah kamu akan jalan keluar dengan perempuan?”

“Yah, begitulah”

Dan bukan sembarang perempuan, itu adalah Sei-chan yang kusayangi… Ya ampun, aku menjadi sangat gugup setelah memikirkannya lagi.

Aku berjalan melewati ruang tamu menuju pintu depan dan mulai memakai sepatuku.

Kemudian Rie, yang sedang sarapan, mengikutiku ke arah pintu depan.

Jangan bilang kalau, demi kakaknya, dia sampai rela berhenti sarapan terus menuju pintu depan hanya untuk bilang “Hati-hati di jalan”?

Sungguh adik yang imut…!

“E-Eh… Onii-chan, apa kamu akan pergi kencan hari ini?”

“Ini sedikit beda dari kencan… tapi yah, aku akan jalan dengan seorang cewek berduaan. Jadi, itu bisa disebut kencan juga sih.”

“B-Bohong…”

“Aku tidak bohong, kok. Aku tidak akan melakukan hal semenyedihkan itu.”

Aku duduk dan memakai sepatu, menghadap ke arah pintu depan, jadi aku tidak bisa melihat wajah Rie di belakangku.

Tapi entah kenapa, dari suaranya, sepertinya dia sedikit sedih…

Sambil berpikir begitu, aku memakai sepatu luar ruangan, berdiri dan berbalik menghadap Rie.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Maaf padahal kamu sudah repot-repot membuatkanku sarapan, tapi aku yakin Yuuichi akan sangat senang saat kamu menawarkan sarapan itu padanya. Bahkan, jika dia tidak senang, kamu boleh menendang pantatnya.”

“…Y-Ya, aku mengerti.”

“Hm? Ada apa? Kamu tidak terlihat terlalu sehat…”

“Tidak, aku baik-baik saja… Hati-hati di jalan.”

“Ya, aku berangkat.”

Aku sangat senang mendengar adikku yang imut mengucapkan selamat jalan.

Sambil bertanya-tanya soal Rie yang terlihat sedikit linglung, aku membuka pintu depan dan berjalan keluar.

Hal pertama yang aku lakukan saat aku keluar rumah adalah… melihat sekeliling.

Biasanya aku tidak melakukan ini, tapi hari ini aku harus melakukannya.

Alasannya adalah karena… Ah, mungkinkah itu?

Tepat setelah meninggalkan rumah, aku melihat sebuah mobil hitam diparkir di dekat rumahku.

Memang bukan mobil yang semencolok limusin, tapi jika diperhatikan baik-baik, tampak jelas bahwa itu adalah mobil mewah.

Tidaklah wajar melihat mobil mewah seperti itu di daerah pemukiman yang sepi di pagi hari.

Jika itu adalah mobil milik salah satu tetanggaku, mereka kemungkinan besar akan memarkirnya di halaman rumah mereka.

Dengan kata lain, itu… mungkin, mobil Tojoin-san.

Berpura-pura tidak menyadarinya, aku berjalan melewati mobil itu dan menuju ke tempat pertemuan.

Sambil berjalan, aku mengirim pesan ke Yuuichi dan Sei-chan melalui RINE, memberitahu mereka bahwa ada kemungkinan besar dia akan mengikuti kami ke lokasi kencan.

Yuuichi dengan cepat membalas.

Seriusan…? Maaf, tapi aku akan mememinta bantuanmu untuk menghentikan Kaori.

Siap.

Lalu aku pun mendapat RINE lain dari Sei-chan tepat setelah itu.

“Begitu ya. Kalau begitu kita harus pastikan untuk mengawasi kencan Shiho dan Shigemoto, serta menghentikan dia. Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah berangkat dari rumah, Hisamura? Kita masih ada sedikit waktu sebelum waktu janjian, kan?”

Oh tidak, ini buruk. Sei-cihan bisa-bisa tahu jika aku sudah berangkat jam segini.

“Tidak, aku belum berangkat. Aku cuma melihat ke luar jendela dan menemukan sebuah mobil mewah yang tampak mencurigakan diparkir di luar rumah.”

“Begitukah? Kalau begitu baguslah.”

Fiiuh, hampir saja. Akan sangat memalukan jika dia mengetahui kalau aku terlalu bersemangat hingga aku berangkat satu jam lebih awal demi pergi ke tempat janjian.

Ditambah lagi, mengetahui bahwa aku sudah berangkat, itu mungkin akan membuat Sei-chan merasa tidak nyaman.

Hmm? Sei-chan mengirimkan pesan RINE lagi.

Um, sudah lama sekali aku tidak pergi ke taman hiburan, jadi aku sangat menantikannya.

Uuuhh… imutnya.”

Sei-chan sepertinya ingin menghentikan detak jantungku sebelum pertemuan kami dimulai dengan pesan seperti ini.

Sangat imut dan menyakitkan sampai jantungku terasa sesak melihatnya….

Kekontrasan antara gadis keren seperti Sei-chan yang mengirim pesan semacam ini sangat imut hingga membuatku tak bisa berkata-kata.

Aku juga sangat menantikan untuk bisa pergi ke taman hiburan bersamamu, Sei-chan.”

Aku menyampaikan perasaan jujurku, dan dengan hati yang riang, aku pun menaiki kereta menuju ke tempat pertemuan kami.

◇ ◇ ◇



Isekai Romcom Bahasa Indonesia [LN]

Isekai Romcom Bahasa Indonesia [LN]

Since I’ve Entered the World of Romantic Comedy Manga, I’ll Do My Best to Make the Heroine Who Doesn’t Stick With the Hero Happy, Rabu kome manga no sekai ni haitte shimattanode, shujinkō to kuttsukanai hiroin o zenryoku de shiawaseni suru
Score 9.7
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 2022 Native Language: Jepang
Suatu hari aku tertabrak truk dan mendapati diriku menjadi sahabat dari protagonis dalam manga komedi romantis. Oh, ini mimpi, kan? Di depanku ada heroine yang kalah yang paling kusukai, Sei Shimada--Aku puas bisa menyatakan "Aku mencintaimu" padanya, tapi  aku tidak bisa bangun dari mimpi ini.....!??

Comment

Options

not work with dark mode
Reset