Fuyu Novel

[LN] Rabukome no Akuyaku ni Tenseishita Ore wa, Oshi no Hiroin to Seishun wo Tanoshimu Volume 1 Chapter 2 (3/5) Bahasa Indonesia

Chapter 2: Gadis Tercantik

(3/5)


Jam pelajaran ketiga olahraga, di mana aku berteman dengan Leo, berakhir tanpa insiden, dan setelah itu tidak ada perkembangan yang mendekatkanku dengan Raito Fusegawa, sang protagonis.

Leo benar-benar pandai menangani situasi.

Sambil menjaga jarak yang sempurna antara aku dan Raito Fusegawa, dia berbicara denganku dengan ramah sebagai teman.

Dengan begini, mungkin tidak mustahil untuk tetap berteman dengan Leo sambil menjaga jarak dari protagonis.

Aku merasa ada secercah harapan untuk keluar dari peran antagonis.

Ketika pelajaran pagi berakhir dan istirahat makan siang tiba, aku menyadari kelas menjadi agak ribut.

“Hei, hei, kau lihat? Siapa gadis itu? Dia sangat cantik, kan!”

“Aku juga melihatnya. Mungkin dia murid pindahan. Kalau ada gadis secantik itu, aku tak akan melupakannya setelah melihatnya sekali.”

“Dia benar-benar luar biasa. Terasa kayak auranya berbeda. Dia begitu cantik sampai aku hampir pingsan.”

Teman-teman sekelas di sekitarku berbicara dengan penuh semangat.

Percakapan itu terdengar sampai ke kursiku di barisan depan, dan dari pembicaraan mereka, aku menangkap informasi bahwa seorang murid pindahan telah datang ke sekolah ini.

Sepertinya gadis itu datang ke sekolah saat istirahat makan siang, dan murid-murid yang melihatnya menjadi heboh. Dari percakapan para murid, dia tampaknya sangat cantik, bahkan hanya dengan berjalan di koridor, dia mengubah suasana sepenuhnya dan menarik perhatian semua orang di sekitarnya.

Kecantikannya yang luar biasa membuat kelas kami terus membicarakannya.

(Benarkah dia murid pindahan…?)

Berdasarkan isi cerita “Fusekoi” yang kutahu, tidak ada adegan di mana seorang gadis cantik pindah ke sekolah ini pada caturwulan pertama.

Artinya, gadis yang membuat teman-teman sekelas heboh ini seharusnya bukan murid pindahan, melainkan salah satu murid yang sudah bersekolah di SMA Kiou.

(Apakah ada gadis seperti itu selain para heroine…?)

Jika sampai membuat kehebohan seperti ini, dia pasti sangat cantik.

Namun, aku yang mengetahui karya aslinya pun sama sekali tidak bisa menebak siapa gadis cantik ini.

Meskipun “Fusekoi” adalah komedi romantis bertipe harem, gadis cantik yang bisa menghebohkan seisi sekolah jelas terbatas. Onee-san cantik yang dikenal di tempat kerja paruh waktu saat liburan musim panas adalah mahasiswa, jadi jelas itu bukan dia, dan adik perempuan imut yang mengagumi protagonis masih SMP dan belum bersekolah di SMA ini.

“Yah, itu tidak ada hubungannya denganku…”

Aku pasti tidak akan akrab dengan gadis cantik itu. Itu karena aku adalah antagonis dalam cerita ini, sosok yang tidak akan pernah cocok dengan heroine cantik yang mempesona seluruh sekolah.

Protagonis, Raito Fusegawa, sedang di atap bersama para heroine lagi hari ini, dan Leo pergi ke kelas lain bersama teman-teman ekskul basketnya.

Gadis cantik itu mungkin tidak akan datang ke kelas yang penuh dengan karakter figuran. Aku tidak menunjukkan minat lebih lanjut pada topik gadis cantik yang dibicarakan teman-teman sekelas, dan membuka kotak bekal buatan sendiri sendirian di mejaku.

Karena aku mempersiapkannya sejak pagi-pagi sekali, hasilnya terlihat enak.

Nah, apa yang harus kumakan dulu? Hamburger yang kubuat kemarin, atau telur dadar? Hmm, mungkin sebaiknya tomat ceri dulu—

Tepat ketika aku hendak mengulurkan sumpitku, tiba-tiba terdengar suara riuh di kelas.

Itu adalah sorakan yang dikeluarkan karakter figuran ketika perhatian mereka tertarik oleh heroine yang mewarnai cerita.

Apa yang terjadi, pikirku sambil mengangkat wajah.

“Wow…”

Tanpa sadar aku mengeluarkan suara.

Pemandangan yang terbentang di depan mataku terlalu menyilaukan bagi seorang antagonis sepertiku.

Dia adalah gadis yang cantik. Rambut hitamnya yang lembut dan halus menjuntai hingga pinggangnya, mata birunya yang berbinar seperti bintang dihiasi oleh bulu mata yang panjang, dan bibir merah mudanya yang lembap berkilau.

Bentuk wajahnya sempurna seperti boneka yang dibuat dengan sangat teliti, kulitnya halus dan putih tanpa cacat, dan tangan serta kakinya ramping dan luwes.

Seragam yang dipakainya dengan rapi semakin menonjolkan penampilannya yang anggun dan manis.



Di sana berdiri seorang gadis tercantik yang jauh melampaui ketiga heroine yang biasanya mengelilingi Raito Fusegawa, sang protagonis.

Auranya begitu anggun, setiap langkahnya membuat murid-murid lain menghela napas kagum.

Semua orang terpana dengan kemunculan gadis yang luar biasa cantik ini, dan karakter figuran yang tersisa di kelas terus menatapnya dengan pandangan iri.

(Oi, oi… Tunggu dulu. Bagaimana bisa gadis secantik ini muncul di tempat yang tanpa protagonis ini?)

Kebingungan itu semakin menjadi-jadi.

Itu karena dia berhenti di depan kursiku tanpa mempedulikan reaksi orang-orang di sekitarnya.

Dan kata-kata yang diucapkan dengan suara indah yang seperti denting lonceng itu jelas ditujukan padaku—entah bagaimana, aku merasa mengenal suara itu.

“Halo halo, Ryuusuke. Aku datang untuk bermain.”

Gadis tercantik itu menatapku sambil tersenyum polos, memperlihatkan gigi gingsulnya.

“Hah? Eh? Oh? Ah!?”

“Hei… jangan terkejut begitu. Aku hanya mengecat rambutku jadi hitam, melepas kuncir samping, dan mengurangi sedikit make-up.”

Melihatku tak bisa berkata-kata karena terkejut, gadis tercantik itu menggembungkan pipinya dengan kesal.

Apa yang… terjadi? Sampai kemarin, kau sepenuhnya berbeda.

“…M-Mashiro!?”

Ya.

Dia adalah Mashiro Amanatsu—seorang antagonis seperti aku, yang sampai kemarin adalah gadis bergaya cabe-cabean, sekarang muncul di hadapanku sebagai gadis tercantik di dunia komedi romantis ini.

Aku teringat kejadian kemarin.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Mashiro berjalan di sampingku, mengatakan ingin pulang bersama. Namun, untuk melindungi Mashiro dari akhir kehancuran yang menanti di masa depan, aku memberitahunya dengan perasaan bersalah.

Aku bilang bahwa aku tidak suka cabe-cabean dan sebenarnya menyukai gadis yang anggun, dan karena Mashiro adalah kebalikan dari itu, aku tidak menyukainya.

Ekspresi Mashiro muram mendengar kata-kataku, dan melihatnya seperti itu membuatku merasa sangat bersalah, tapi aku tetap meyakinkan diriku bahwa itu perlu dilakukan untuk menghindari masa depan kehancuran. Namun, Mashiro tersenyum polos dan berkata:

“Tunggu ya, aku akan mengatasi hal yang membuatmu tidak nyaman, Ryuusuke!”

Aku hanya bisa memiringkan kepala karena tidak mengerti maksud kata-katanya, tapi Mashiro pergi begitu saja setelah mengucapkan selamat tinggal.

Itulah yang terjadi kemarin.

Dan sekarang—Mashiro telah berubah seolah mewujudkan gadis anggun yang kukatakan kemarin, dengan rambut hitam indah yang lurus, seragam yang rapi, make-up natural, tanpa sedikit pun kesan cabe-cabean yang ada kemarin.

Sejak awal, Mashiro adalah karakter yang diberi status khusus sebagai antagonis.

Penampilan khusus untuk menonjolkan para heroine, dengan aura yang sepenuhnya berbeda dari karakter figuran.

Terutama Mashiro, yang dalam arc kelas dua “Fusekoi”, memikul takdir khusus untuk menghadang protagonis sebagai antagonis terkuat setelah aku.

Karena itulah Mashiro sejak awal adalah gadis cantik yang setara dengan para heroine.

Dan kejadian kemarin sebagai pemicu—hasilnya, dia telah terlahir kembali sebagai gadis tercantik yang sempurna dan luar biasa, jauh melampaui para heroine.

Menghadapi Mashiro yang seperti itu, aku tanpa sadar berdiri.

Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Aku terpana melihat kecantikannya dari dekat.

Di sana berdiri seorang gadis dengan kecantikan yang begitu sempurna sehingga aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar manusia.

Saat aku terpaku di hadapan kecantikannya yang luar biasa, aku mendengar suara yang jernih seperti lonceng, namun terasa hangat dan bahkan enak di telinga.

“R-Ryuusuke…? K-Kalau kau menatapku seperti itu… aku juga, um, jadi malu…”

Aku semakin kehilangan kata-kata melihat keimutan Mashiro yang wajahnya memerah, jari-jarinya saling bertaut dengan malu-malu. Kemudian dia menggenggam tangannya di depan dada dan menatapku dengan pandangan ke atas. Apa-apaan sikap itu, curang sekali…

“B-Bagaimana? Ryuusuke, karena kamu bilang lebih suka yang seperti ini… aku mengecat ulang rambutku di salon, dan bersiap-siap sejak pagi. Tapi make-up-ku agak tidak berjalan lancar… jadi aku baru bisa datang ke sekolah siang ini.”

Mata birunya yang menghipnotis bergetar cemas, dia begitu imut sampai aku ingin memeluknya, jadi aku buru-buru mengalihkan pandangan.

Karena aku bilang tidak suka cabe-cabean, Mashiro berusaha mengubah dirinya untukku.

Dia berusaha keras untuk menjadi gadis impianku, agar aku senang, agar aku menyukainya.

Bagi seorang gadis, membuang semua hal yang dia sukai selama ini dan berubah hanya demi satu laki-laki bukanlah hal yang bisa dilakukan tanpa tekad yang kuat. Tapi, dia melakukannya.

Dia mengubah perasaannya padaku menjadi usaha, dan terlahir kembali sebagai gadis tercantik yang bahkan melampaui para heroine.

“…Ah.”

Aku tidak bisa bersuara di hadapan Mashiro. Bahkan memujinya dengan kata-kata biasa pun tidak bisa.

Aku terlalu senang mengetahui ada orang di dunia ini yang memikirkanku sampai sejauh ini.

Di kehidupanku sebelumnya tidak ada.

Di dunia itu, tidak ada seorang pun yang mau melakukan hal seperti ini untukku.

Aku tidak tahu harus berkata apa pada orang seperti itu. Aku berusaha mati-matian untuk mengungkapkan perasaan ini dengan kata-kata, tapi yang bisa kulakukan hanyalah berdiri terpaku seperti orang bodoh.

Lalu Mashiro, dengan pipi yang masih merah, berjinjit ke arahku.

Dia meletakkan tangannya di pipiku dan tersenyum polos.

“Seperti inilah wajah Ryuusuke ketika benar-benar senang. Aku tahu tanpa perlu kamu katakan, karena kita sudah berteman sejak SD.”

Mendengar kata-kata seperti itu, jantungku berdebar begitu kencang sampai rasanya mau meledak.

Dia selalu mengetahuinya selama ini.

Dia memahami bagaimana aku mengekspresikan kegembiraan, apa yang membuatku senang, semuanya.

(Ah… Apa ini? Aku sangat senang. Aku bahagia.)

Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini.

Aku tidak bisa menghentikan detak jantungku yang semakin cepat.

Jantungku berdebar-debar sampai dunia terlihat bersinar. Mashiro begitu menggemaskan, hingga mau tak mau aku sangat menyayanginya.

Tidak peduli seberapa keras aku mencoba menjauhkannya, Mashiro selalu berusaha untuk tetap di sisiku.

Aku memutuskan untuk menjauhkan Mashiro, meyakinkan diriku bahwa ini demi kebahagiaannya, untuk menyelamatkannya dari kehancuran yang menanti di masa depan. Tapi, itu semua salah.

Mashiro tidak akan pernah melepaskanku, apapun yang terjadi.

Apapun yang terjadi, dia ingin tetap bersamaku.

Mengabaikan perasaan gadis yang begitu tulus dan menjauhkannya… bukankah itu justru yang dilakukan antagonis?

Jika Mashiro tidak melepaskanku, aku juga tidak akan melepaskannya.

Untuk menghindari kehancuran dan mendapat kebahagiaan, kami harus berjuang bersama, bukan sendirian.

Antagonis juga ingin menikmati masa muda.

Seperti halnya aku yang berharap begitu, Mashiro juga memiliki perasaan yang sama.

Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untuk menahan diri.

Aku akan tertawa bersama Mashiro dan menikmati masa muda kami.

Setelah memikirkan semua itu dan menyadarinya, akhirnya aku bisa mengucapkan kata-kata.

“C-Cocok. Itu… sangat imut.”

Mendengar kata-kataku yang terbata-bata, Mashiro tersenyum lebar dengan gembira.

Begitulah, Mashiro Amanatsu kini menjadi satu-satunya keberadaan yang mewarnai duniaku—yang paling baik, paling cantik, dan paling sempurna.



Exit mobile version